07 Aug 2019 Β· 5.971 dibaca · Hikmah
LADUNI.ID, Sarang - Pagi menjelang siang, di Pondok Pesantren Al Hidayat, Lasem, Rembang, sekitar tahun 1950. Para kiai berkumpul di ruang tamu ndalem Mbah Ma'shum, sang pengasuh, untuk suatu acara. Seperti umumnya, para kiai saling beramah tamah.
"Putra Kiai Zubair Sarang datang dari Mekkah," seorang kiai mengabarkan kepada segenap tamu. Ramah tamah yang awalnya "biasa-biasa saja" seperti berubah menjadi sesuatu yang luar biasa.
"Siapa namanya?" Mbah Ma'shum bertanya. Beliau perlu bertanya sebab orang yang dibicarakan belum masuk lingkaran kiai khos di lingkungan Mbah Ma'shum (yang saat itu telah berusia 80 tahun).
"Gus Maimun...," jawab kiai pemberi kabar.
Para kiai di ndalem itu, sebenarnya, masih banyak yang belum mengenal putra Mbah Zubair yang bernama Gus Maimun itu. Akan tetapi, setelah hening beberapa waktu, ada respon.
"Dia orang 'alim...," Mbah Ma'shum memuji.
"Dia seorang faqih...," kiai lain memujinya.
&
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan β tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+