11 Aug 2019 · 3.418 dibaca · Sosial Budaya
Oleh RUMAIL ABBAS*)
LADUNI.ID, Jakarta - “Lho, yang layak disebut Guru Bangsa itu Lik Mus. Saya tidak pantas disebut seperti itu,” demikian jawab Mbah Moen--panggilan takzim untuk KH. Maimoen bin Zubair bin Dahlan.
Sayid Abbas bin Alawy Al-Makky pernah berujar tentang sosok pengasuh Pesantren Al-Anwar Sarang Rembang itu. Ia berkata, “Jika kau ingin melihat ahli surga yang ada di zaman ini, maka lihatlah Kiai Maimoen.”
“Paklik saya yang paling ngecap di hati saya ini, meski lebih muda dari saya, tapi rambutnya sudah putih merata. Itu tanda (beliau adalah) ahli berpikir. Kepala saya, meski umur saya lebih tua dari beliau, separuh rambutnya hitam, separuhnya lagi putih. Artinya saya ini tidak begitu ahli berpikir.”
Saya ingat betul bagaimana Mbah Moen menyampaikan kalimat di atas, kata demi kata, dengan bahasa Krama Alus, sebagai bentuk kesopanan karena berbicara tentang pakliknya.
Ngomong-ngomong, Lik Mus yang disebut Mbah Moen tadi, tidak lain adalah KH. Mustofa Bisri Rembang. Lantas, apa
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan — tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+