07 Sep 2019 Β· 4.082 dibaca · Hikmah
LADUNI.ID, Jakarta - Ketika di awal-awal ada yang nyantri kepada KH. M. Utsman al-Ishaqy sebanyak 5 orang, beliau mengajak para santrinya berkeliling kampung Jatipurwo, Sawahpulo, sambil membaca Shalawat Burdah.
Karena lingkungan masyarakat yang kala itu masih kental dengan para peminum, penjudi, létrék, premanisme, bahkan pekerja seks komersil (PSK), tidak jarang beliau mendapatkan respon penolakan yang beragam rupa. Jika dipikir, kampung ini mirip kampung jahiliyah.
Penolakan tersebut mulai dari lemparan batu, diejek, disoraki, dikasih besek mirip berkatan yang ketika dibuka isinya ternyata tai orang, hingga pada pengancaman pembunuhan karena dianggap telah mengusik kenyamanan masyarakat setempat. Padahal di kampung tersebut beliau bukanlah sebagai pendatang.
Bermacam efek balik yang dialami oleh para pembencinya. Ada yang sakit-sakitan, jatuh bangkrut, menjadi gelandangan, gelisah berkepanjangan sampai dengan hilangnya akal. Tapi banyak pula yang tersadar dan bahkan menjadi pendukung setia.
Suatu ketika beliau &ldqu
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan β tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+