16 May 2020 Β· 3.763 dibaca · Kolom
Laduni.ID, Jakarta - Isu gender bagi kalangan para santri terdiri dari dua arus besar. Bagi para santri yang terus berkecimpung di pesantren dengan pegangan kitab kuning, setiap harinya akan terlihat respon penolakannya, atau setidaknya kurang setuju. Sementara bagi arus kedua, para santri yang sudah aktif di lingkungan akademisi, pergerakan, bersentuhan dengan komunitas dan sosial yang beragam biasanya menerima isu gender ini.
Arus kedua ini - alam amatan saya- ada yang langsung menggugat bentuk patriarki dan penempatan wanita dalam kelas dua di beberapa literatur kitab. Namun ada pula yang lebih soft, tidak mendekonstruksi "doktrin" kitab kuning, namun mereinterpretasi (menafsirkan ulang) beberapa kitab rujukan tersebut dengan membandingkan dari penjelasan para ulama lain. Biasanya menggunakan tafsir ulama yang berbeda dalam penekanan sisi makna bahasa, atau dengan menggunakan pendekatan ilmu ushul fiqih.
Dalam penyampaian materi di sebuah seminar online, Kyai Imam Nakhai yang juga dosen di Ma'had 'Ali Salafiyah Syaf
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan β tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+