Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Raden Ahmad Djawari (Ajengan Garuda)
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Raden Ahmad Djawari (Ajengan Garuda)

1914 – 1977 M · 9.122 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Raden Ahmad Djawari (Ajengan Garuda) adalah ulama NU.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi Profil KH. Raden Ahmad Djawari (Ajengan Garuda)

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Mendirikan Pesantren
  5. Melawan DI/TII
  6. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Kelahiran

KH. Raden Ahmad Djawari lebih dikenal dengan julukan Ajengan Garuda atau Mama Garuda lahir pada tahun 1914, di Makkah Al-Mukarromah. Beliau merupakan putra pertama dari tiga bersaudara, dari pasangan KH. Ahmad DJunaidi dan Hj. Rd Fatimah Zahro. Saudara-saudara beliau diantaranya, Hj. Rd Siti Syarah, KH. Rd Emas Zarkasih dan KH. Rd Jeje Zaenudin.

Disebut Ajengan Garuda karena ia mendirikan dan mengelola Pesantren Annajah di Jalan Garuda, Bandung.

Wafat

KH. Raden Ahmad Djawari wafat pada usia 63 tahun atau tepatnya pada bulan Maret 1977.

Pendidikan

Perjalanan KH. Raden Ahmad Djawari bisa sampai ke Makkah dimulai sejak ia masih muda berangkat ke Makkah untuk mendalami ilmu agama Islam. Kesempatan belajar yang ia miliki dimanfaatkan dengan maksimal hingga akhirnya ia berhasil masuk dalam jajaran ulama Hijaz yang cukup disegani.

Saat terjadi huru-hara di Hijaz yang ditandai dengan pendirian kerajaan Saudi Arabia, para putera Kiai Djunaidi pulang ke kampung halamannya, Garut, Jawa Barat. Kepulangan para putera Kiai Djunaidi ini disambut gembira oleh pihak keluarga karena diyakini akan muncul kader-kader yang siap membantunya dalam melakukan dakwah Islam di wilayah priangan.

Pendidikan dasar yang diperoleh Djawari muda saat di Makkah dilanjutkan kembali dengan mondok di beberapa pesantren ternama pada zamannya, diantara Pesantren yang sempat ia kunjungi adalah Pesantren Cilenga, Banjar, Cipasung, Wates, Limbangan, Gunung Puyuh, Keresek dan Biru. 

Mendirikan Pesantren

Setelah puluhan tahun belajar ilmu agama di beberapa Pesantren, KH. Raden Ahmad Djawari pulang kampung dan berencana akan menyebarkan ilmu yang ia dapat dengan mendirikan sebuah pesantren, pihak keluarga sangat mendukung keinginannya itu sehingga pada tahun 1946 Kiai Djawari merintis pesantren di Cihuni yang ia berinama Annajah.

Kepiawaian Kiai Djawari dalam mendidik para santrinya menjadikan Pesantren Annajah semakin dikenal luas dan menjadi salah satu pesantren yang banyak dikunjungi para santri dari berbagai daerah di Jawa Barat seperti Garut, Sukabumi, Subang, Cianjur, Sumedang, Tasikmalaya dan sebagainya. Diantara santri Kiai Djawari yang berhasil menjadi tokoh adalah KH. Ahmad Ma`mun, KH. Syatori, KH. Totoh Abdul Fatah Ghozali dan KH. Abdul Fatah Mazani.

Melawan DI/TII

Perjalanan awal KH. Raden Ahmad Djawari dalam merintis pesantren tidak selalu berjalan mulus, karena saat itu kondisi sosial politik nasional sedang tidak stabil dengan adanya agresi militer Belanda dan beberapa pemberontakan di berbagai daerah, termasuk Garut yang sudah dirasuki gerombolah DI/TII.  

Pada tahun 1947-1950, Kiai Djawari dan para santrinya ikut terlibat dalam pusaran konflik dengan gerombolan DI/TII karena Kiai Djawari dan para pengikutnya dianggap sebagai kelompok pendukung NKRI yang akan menghambat pendirian Negara Islam di Indonesia, dalam situasi ini Kiai Djawari menjadikan Pesantren Annajah sebagai tempat perjuangan bersama masyarakat Cihuni.

Gerombolan DI/TII terus melakukan teror dan intimidasi kepada Kiai Djawari dan para pengikutnya, agresifitas DI/TII memuncak saat Pesantren Annajah berikut isinya dibakar sampai habis. Wajar saja karena memang gerombolan DI/TII dibekali senjata api sementara pasukan Kiai Djawari yang lebih memilih strategi bertahan hanya dilengkapi dengan

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+