Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Muhammad Djunaidi, Pengurus Majelis Konsul NU Jakarta
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Muhammad Djunaidi, Pengurus Majelis Konsul NU Jakarta

lahir 1906 M · 8.463 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Muhammad Djunaidi lahir pada tanggal 2 Februari 1906 di Kwitang, Jakarta. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Abdul Azis (Kwitang) bin Sainan dengan Nyai Hj. Hasnah binti H. Dahlan bin H. Alwi.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi:

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Riwayat Keluarga
1.3  Wafat

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Pendidikan

3.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1  Hijrah ke Solo
3.2  Kiprah di Nahdlatul Ulama

4.    Referensi

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1  Lahir
KH. Muhammad Djunaidi lahir pada tanggal 2 Februari 1906 di Kwitang, Jakarta. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Abdul Azis (Kwitang) bin Sainan dengan Nyai Hj. Hasnah binti H. Dahlan bin H. Alwi.

Menurut keterangan berbagai sumber, Kyai Djunaidi merupakan sahabat akrab KH. Abdul Wahid Hasyim, ayahanda Gus Dur. “Jika bertemu, mereka kerap berbincang dalam bahasa Arab bergaya sastra,” kisah almarhum Hussein Badjerei, tokoh Al-Irsyad asal Tanah Abang. Persahabatan keduanya diteruskan oleh putra-putranya yakni H. Mahbub Djunaidi (tokoh Pers) dan KH. Abdurahman Wahid dalam lingkungan Nahdlatul Ulama.

1.2 Riwayat Keluarga
KH. Muhammad Djunaidi menikah dengan Nyai Hj. Muhsinati. Dari pernikahannya, beliau dikaruniai satu putra dan enam putri, diantaranya:

  1. Mahbub Djunaidi,
  2. Muhibbah,
  3. Masfufah,
  4. Masrofah,
  5. Mussofah,
  6. Masykur,
  7. Muyasarah.

KH. Muhammad Djunaidi kemudian menikah kembali dengan Nyai Hj. Nurmalih. Dari pernikahannya, beliau dikaruniai 5 orang anak, yakni:

  1. Fathurrahman,
  2. Fauziah,
  3. Fu’ad,
  4. Fadlan,
  5. Farhatin.

1.3 Wafat
KH. Djunaidi wafat pada 28 Oktober 1958 M, dan dimakamkan di Pemakaman Umum Karet, Tanah Abang, Jakarta.

Pada Pemilu tahun 1955, KH. Djunaidi terpilih menjadi anggota DPR RI dari Partai NU mewakili daerah pemilihan Djakarta Raya. Jabatannya di DPR RI, digantikan oleh H. A. Mursjidi.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan

2.1 Pendidikan
Kyai Djunaidi kecil tumbuh dalam lingkungan yang religius, yakni di daerah Kwitang Jakarta, di mana terdapat banyak ulama besar saat itu antara lain: Habib Ali bin Abdurrahman bin Abdullah Al-Habsyi (Habib Ali Kwitang).

Semasa remaja, Kyai Djunaidi mengenyam pendidikan di Madrasah Jamiat Kheir, sebuah sekolah Islam modern pertama di Betawi. Peneliti sejarah, Alwi Al-Atthas, menerangkan model pendidikan di sekolah Jamiat Kheir waktu itu sudah mirip sekolah umum seperti sekarang, hanya muatan utamanya adalah ilmu-ilmu agama atau keislaman. Selepas belajar di Jamiat Kheir, Kyai Djunaidi melanjutkan pendidikannya hingga ke jenjang atas.

Semasa hidupnya, Kyai Djunaidi merupakan potret seorang anak yang sangat hormat dan berbakti kepada orang tua. Meskipun beliau seorang pejabat dan ulama, beliau tetap meminta pendapat orang tuanya mengenai khutbah yang akan disampaikan kepada umat. Ibunya duduk dan beliau bersila di depan ibunya, se

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+