Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Abdurrohim (Ajengan Abdurrohim)
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Abdurrohim (Ajengan Abdurrohim)

11.203 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Abdurrohim (Ajengan Abdurrohim) adalah ulama NU.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi Profil KH. Abdurrohim (Ajengan Abdurrohim)

  1. Kelahiran
  2. Kisah saat Mendirikan Pesantren

Kelahiran

KH. Abdurrohim atau yang kerap disapa dengan panggilan Ajengan Abdurrohim dilahirkan di Kota Banjar, Jawa Barat.

Kisah saat Mendirikan Pesantren

Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, salah satu pesantren yang masyhur bukan hanya di wilayah Kota Banjar, Jawa Barat saja, namun juga dikenal di pelosok tanah air karena kiprah pengasuh, pendiri serta alumninya di berbagai daerah di Indonesia.

Di balik kesuksesan pesantren terbesar di Kota Banjar ini, kisah proses berdirinya pesantren ini, mulai dari kisah nyata hingga yang berbau mistis dan pada masa penjajahan Belanda, tidak terlepas dari cerita yang sering disampaikan para pengasuh kepada santrinya.

KH. Munawir Abdurrohim, anak pertama KH. Abdurrohim atau Ajengan Abdurrohim, pendiri Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar mengatakan, awal berdirinya Ponpes yang dikenal pesantren Citangkolo tersebut saat kiai muda yang bernama Marzuki Mad Salam (wafat tahun 1968 dalam usia 93 tahun) asal Dusun Grumbul Kelawan Desa Gung Agung, Kecamatan Bulus Pesantren Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, melihat kondisi umat Islam saat itu yang masih dalam penjajahan Kolonial Belanda sangat memprihatikan.

"Beliau berkelana ke berbagai tempat mulai dari Gombong, Tambak, Sitinggil dan tempat lainnya. Nah, pada tahun 1911 beliau tiba di Citangkolo yang mana dikenal daerah dengan kondisi hutan belantara dan konon sangat angker serta banyak binatang buas," kisah KH. Munawir.

Ia berkisah, saat Kiai Marzuki ke Citangkolo, ada tiga keluarga yang berasal dari Manonjaya Tasikmalaya, Cineam Tasikmalaya dan Rancah Ciamis.  Namun, kabarnya tiga keluarga tersebut tiba-tiba hilang tanpa sebab.

Tepat tanggal 10 Muharam di tahun masehi 1911, sambung KH. Munawir, Kiai Marzuki mendirikan mushola panggung dengan ukuran 2 x 3 meter. Lima tahun kemudian, lahan di sekitar mushola dimanfaatkan guna mendukung kegiatan keagamaan yang dilakukannya. A

"Tahun 1916, beliau memboyong keluarga dari desa asalnya dengan membawa bayi laki-laki yang berusia 100 hari, yakni Badrun. Seiring itu, mushola diperbesar hingga ukurannya menjadi 5X9 meter," katanya lagi.

Lambat laut karena perkembangan ajaran islam di Citangkolo semakin melesat, di tahun 1923 mushola yang sudah diperbesar ukurannya tersebut diubah menjadi Masjid Jami' atas permintaan Bupati Tasikmalaya saat itu. Hal itu dilatarbelakangi semakin banyaknya pemuda-pemudi belajar agama ke Kiai Marzuki.

Saat proses pengembangan cikal bakal Pesantren Citangkolo itu, KH. Munawir menambahkan, Kiai Marzuki dibantu anaknya yang bernama Kiai Mad Soleh (wafat tahun 1950) serta menantunya.

Pasa saat zaman pra kemerdekaan, Pesantren Citangkolo menjadi salah satu basis pergerakan untuk membantu para pejuang dalam merebut kemerdekaan dari tangan kolonial Belanda. Dengan semangat berjuang, pasukan dinamakan Hizbulloh yang dipimpin Kiai Badrun, yang kini dikenal dengan sebutan KH Abdurrohim setelah namanya diubah, dan membawahi pasukan di wilayah Ciamis, Tasikmalaya, dan daerah sekitarnya.

"Lantaran tercium pergerakannya oleh Kolonial Belanda, Pesantren Citangkolo akhirnya menjadi sasaran tembakan meriam Belanda dari Banjar. Apalagi kemarahan Belanda memuncak ketika terjadi adanya penggulingan Kereta Api di wilayah Cibeureum Desa Mulyasari, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar," imbuh KH. Munawir yang juga lulusan Al Azhar, Kairo, Mesir.

Sebelum Kiai Badrun menyiarkan agama islam sebagaimana amanat untuk melanjutkan perjuangan ayahnya, ia kembali menuntut ilmu ke pesantren sebelum mengembangkan Pesantren Citangkolo.

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+