KH. Maja Surakarta adalah ulama NU.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Pejuang Melawan Penjajah
4. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Modjo lahir pada tahun 1792 M (ada pula yang menyebut 1782) di Desa Mojo, Pajang, dekat Delanggu, Surakarta, dengan nama Bagus Halifah. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Iman Abdul Ngarif, adalah seorang ulama terkenal yang dianugerahi tanah Perdikan di Desa Baderan dan Mojo, Pajang dengan Raden Ayu Mursilah, adalah adik perempuan Sultan Hamengku Buwono III dan masih bersaudara sepupu dengan Pangeran Diponegoro.
KH. Modjo kemudian mewarisi kedua Desa Perdikan tersebut dari ayahnya, termasuk pesantren, sehingga kemudian dikenal dengan nama salah satu desa ini.
1.2 Riyawat Keluarga
KH. Modjo menikah dengan Raden Ayu Mangkubumi, mantan istri dari Pangeran Mangkubumi, paman Diponegoro.
1.3 Wafat
KH. Modjo wafat pada tanggal 20 Desember 1849 M dalam usia 57 tahun.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Kyai Modjo tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga besar pesantren dan komunitas santri yang sangat disegani di Kraton Surakarta maupun Yogyakarta. Banyak putra-putri bangsawan Solo yang nyantri di pesantren milik ayahnya.
2.2 Guru
KH. Iman Abdul Ngarif (ayah)
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Pejuang Melawan Penjajah
Ketika Perang Jawa berkecamuk, KH. Modjo mendukung sepenuhnya, termasuk memobilisasi para sanak keluarga dan sebagian besar pengikutnya di Pajang. Kontribusi KH. Modjo dalam peperangan sangatlah besar. Seorang mata-mata berkulit Jawa dikirim khusus oleh Belanda untuk mengetahui rahasia kesuksesan pasukan Diponegoro dalam beberapa pertempuran.
Temuan mata-mata Kompeni yang menyusup ke dalam pasukan Diponegoro itu sangatlah mengejutkan: rahasia kekuatan Diponegoro ada pada diri seorang kyai pesantren bernama KH. Modjo, pemikir stategis dan jenderal perang gerilya Diponegoro, yang selevel Napoleon, Mao Tse Tung dan Che Guevara.
Selama hidupnya KH. Modjo dikenal sebagai seorang ulama yang mobilitasnya sangat tinggi. Mengikuti tradisi santri kelana, KH. Modjo punya banyak relasi dan jaringan dengan pusat-pusat keagamaan dan politik di Jawa hingga ke Bali.
Beliau pernah menjadi penghubung antara Kraton Surakarta dan Kerajaan Buleleng di Bali. Jaringan orang-orang pesantren dengan Bali, meski berbeda agama dan kepercayaan, sudah terbangun sejak abad ke-18. Dibuktikan dari adanya ikatan politik dan kebudayaan di antara mereka, misalnya perlindungan bagi kalangan santri yang lari ke Bali untuk menghindari penangkapan Kompeni hingga pemberian kebebasan beragama bagi komunitas-komunitas Muslim di pesisir utara Bali.
Saking gerahnya pemerintah kolonial Inggris, penguasa Jawa saat itu, KH. Modjo sempat ditangkap pada Juli 1812 M. Pembatasan kemudian diberlakukan kepada orang-orang pesantren yang sebelumnya bisa leluasa keluar-masuk kraton. Mobilitas KH. Modjo dan je
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

