Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · Buya Drs. H. Tuanku Bagindo Mohammad Leter (Buya Leter)
✓ Terverifikasi Tim Riset

Buya Drs. H. Tuanku Bagindo Mohammad Leter (Buya Leter)

lahir 1934 M · 9.525 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Buya Leter diangkat menjadi tuanku di Surau (Pesantren) Mato Aia, Pakandangan, Kabupaten Padangpariaman, Sumatera Barat tahun 1971. Itu artinya  Leter sudah diakui sebagai tamatan pesantren dan memiliki pengetahuan agama.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Pendidikan

3.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1  Peranan di Nahdlatul Ulama
3.2  Aktif Berdakwah
3.3  Menjadi Tuan Surau
3.4  Masa Penjajahan

4.    Perjalanan Karir dan Organisasi
5.    Referensi

1. Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1. Lahir
Buya Drs. H. Tuanku Bagindo Mohammad Leter atau yang kerap disapa dengan panggilan Buya Leter lahir pada tanggal 16 April 1934, di Pakandangan.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan

2.1 Pendidikan
Buya Leter memulai pendidikan dengan belajar di Madrasah MIT Pakandangan tahun 1948. Lalu melanjutkan pendidikan ke SMP Persatuan Guru Indonesia Bukittinggi (1948) dan menamatkannya di SMP IPP Bukittinggi tahun 1953.

Setelah selesai, beliau masuk Sekolah Guru dan Hakim Agama (SGHA) Negeri tahun 1956 di Yogyakarta. Dari sana, Leter menamatkan sarjana muda IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 1964 Fakultas Tarbiyah. Sedangkan sarjana lengkap diselesaikan tahun 1970 di tempat yang sama.

3. Perjalanan Hidup dan Dakwah

3.1 Peranan di Nahdlatul Ulama
Ketika di Yogyakarta tahun 1954, Buya Leter turut aktif dalam pendirian Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama bersama Prof.Dr. KH. Chatibul Umam (sekarang salah seorang pengurus PBNU). Di tengah sibuk menyelesaikan kuliah tahun 1966, dipanggil mengikuti wajib militer untuk SEPACAD-AD di Bandung. Setelah mengikuit latihan 6 bulan, muncul kebimbingan antara ingin meneruskan karir militer, menyelesaikan sarjana lengkap IAIN dengan kembali ke PNS.

Akhirnya, melalui SK Menteri Agama, 31 Agustus 1967 ditugaskan menjadi Penilik Pendidikan Agama di Kabupaten Padangpariaman. Hanya dua bulan kemudian, Bupati Padangpariaman Mohammad Noer memintanya jadi Anggota DPRDGR Padangpariaman dari Partai Nahdlatul Ulama, terpilih menjadi Wakil Ketua I DPRDGR Padangpariaman hingga 1971.

Dari Padangpariaman, Leter pindah bertugas ke Departemen Agama Sumatera Barat. Sebagai ulama, dipercaya sebagai Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumbar (1975-1991). Tahun 1979 Leter diminta menjadi pengurus Golkar. Leter menolak karena semua orang tahu ia dari Partai NU dulunya.

3.2 Aktif Berdakwah
Setelah tidak di politik, aktifitas Leter tidak pernah sepi. Berdakwah ke berbagai masjid, surau, majelis taklim. Belum lagi berbagai pertemuan ilmiah, seminar, pelatihan, workshop dan diskusi. Sebagai Wakil Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) periode 2005-2010, Leter semakin memiliki ruang memadukan adat Minangkabau dengan agama Islam. Leter paham betul bagaimana perpaduan adat Minang dan Islam sebagaimana ungkapan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS SBK).

Dengan jejak rekam itu, nyaris tidak ada masyarakat di Sumatera Barat yang tak kenal dengan Buya Leter ini. Banyak tokoh nasional yang datang ke Sumatera Barat, Buya Leter turut mendampinginya.

3.3 Menjadi Tuan Surau
Buya Leter diangkat menjadi tuanku di Surau (Pesantren) Mato Aia, Pakandangan, Kabupaten Padangpariaman, Sumatera Barat tahun 1971.

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+