Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · Syekh Abdur Rahim Al-Asyi (Teungku Chik Awe Geutah)
✓ Terverifikasi Tim Riset

Syekh Abdur Rahim Al-Asyi (Teungku Chik Awe Geutah)

6.956 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Syekh Abdur Rahim Al-Asyi (Teungku Chik Awe Geutah) adalah ulama NU.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi Profil Syekh Abdur Rahim Al-Asyi (Teungku Chik Awe Geutah)

  1. Kelahiran
  2. Nasab
  3. Pendidikan
  4. Kisah Mencari Tempat Tinggal

Kelahiran

Syekh Abdur Rahim Al-Asyi atau yang kerap disapa dengan panggilan Teungku Chik Awe Geutah lahir di Gampong Awe Geutah, Peusangan, Kabupaten Bireuen.

Nasab

Tentang silsilah (Sarakata) Tgk Awe Geutah yang nama aslinya Tgk Chiek Abdur Rahim, Tgk Chiek Muhammad Zein, Tgk Chiek Muhammad Daud, Tgk Chiek Muchsin (Tgk Chiek Peuratah) Tgk Chiek Mansur (Tgk Chiek Meunasah), Tgk Chiek Muhammad Dahlan semuanya sudah almarhum.

Tgk Muchyen Nufus dari keturunan lapis ketujuh Tgk Chiek Muahammad Dahlan  sebagai wali langsung pewaris Tgk Chiek Awe Geuta.

Pendidikan

Teungku Chik Awe Geutah memulai pendidikanya dengan berguru kepada seorang ulama besar di Zabid (Yaman), yaitu Asy-Syekh Al-Qudwah ‘Ali bin Zain Al-Mizjajiy Az-Zabidiy—Rahimahullah. 

Kisah Mencari Tempat Tinggal

Perjalanannya mencari Awe Geutah sebagai tempat menetap, sekaligus mengembangkan agama Islam yang aman dan damai, punya kisah tersendiri. Syahdan sekitar abad ke 13 silam, Abdul Rahim bin Muhammad Saleh sekeluarga, serta tiga pria saudara kandungnya,  hijrah ke Aceh.

Menurut sumber,  mereka meninggalkan tanah kelahirannya.karena masa itu  itu ada pertentangan antar pemeluk beragama Islam di sana, menyangkut perbedaan khilafiyah. Untuk menghindari perselisihan yang bisa berakibat perpecahan antar pemeluk agama Islam itulah Abdul Rahim bersama keluarga dan  berinisiatif melakukan hijrah ke tempat lain.

Pencarian untuk mendapatkan negeri yang aman dan tenteram itu, membuat mereka harus menyingggahi beberapa tempat. Pertama Abdul Rahim beserta rombongan mendarat di kepulauan Nicobar dan Andaman di Samudera Hindia. Kemudian singgah di pulau Weh. Lalu ke pulau Sumatera, yang waktu itu mereka menyebutnya pulau Ruja. Di pulau tersebut mereka menetap beberapa saat di Gampong Lamkabeu, Aceh Besar.

Merasa belum menemukan tempat yang cocok sebagai tempat menetap, lalu mereka melanjutkan lagi pelayaran. Namun seorang saudara kandung Abdul Rahim tidak mau lagi melanjutkan perjalanan. Namanya tidak diketahui persis.

Dia saat itu sudah memantapkan pilihan hatinya untuk bertahan di sana. Konon kabarnya dia kemudian menetap di Tanoh Abee. Di sana dia membangun tempat pengajian. Kelak dia lebih dikenal dengan nama Teungku Chik Tanoh Abee.

Sedangkan pengikut rombongan Abdul Rahim kemudian melanjutkan pengembaraannya. Rombongan tersebut akhirnya mendarat di Kuala Jangka (Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen-). Sebab, mereka melihat di Kuala Jangka  banyak pelayar yang singgah.

Di sana mereka mendapati beberapa toke dari India yang melakukan transaksi penjualan pinang di Kuala Jangka. Salah satunya bernama Cende. Dia mengaku kepada Abdul Rahim, sudah sering pulang-pergi ke Kuala Jangka. Waktu itu Kuala Jangka sudah menjadi pelabuhan yang maju, dan disinggahi para pedagang dari berbagai negara.

Rombongan Abdul Rahim kemudian menetap di Asan Bideun (Sekarang Desa Asan Bideun, Kecamatan Jangka). Mereka tinggal beberapa waktu dan mendirikan balai pengajian untuk mengembangkan dan mengajarkan ilmu agama Islam kepada penduduk di sana.

Suatu hari Abdul Rahim melihat beberapa perempuan setempat, pulang mencuci di sungai dengan memakai kain yang menampakkan bagian dada atas. Melihat pemandangan yang tidak biasanya itu, Abdul Rahim punya firasat lain. Dia berkesimpulan, Asan Bideun bukanlah tempat yang cocok sebagai tempat mereka menetap, negeri itu masih zalim.

Lalu mereka sep

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+