Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · Asa Bafaqih (Wan Asa)
✓ Terverifikasi Tim Riset

Asa Bafaqih (Wan Asa)

1915 – 1978 M · 7.307 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Asa Bafaqih (Wan Asa) adalah ulama NU.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Wafat

2.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
2.1  Mendirikan Media Duta Masyarakat NU
2.2  Karir di Politik

3.    Referensi

1. Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1 Lahir
KH. Asa Bafaqih atau yang kerap disapa dengan panggilan Wan Asa lahir pada tahun 1915, di Tanah Abang, Jakarta.

1.2 Wafat
KH. Asa Bafaqih wafat pada tanggal 13 Desember 1978, di Solo, Jawa Tengah. Jasadnya dikebumikan di Pemakaman Karet, Jakarta.

2. Perjalanan Hidup dan Dakwah

2.1 Mendirikan Media Duta Masyarakat NU
Keberadaan Duta Masyarakat sebagai media Nahdlatul Ulama (NU) tak terlepas dari jasa Asa Bafaqih. Beliau merupakan salah satu penggagas sekaligus pimpinan redaksi Duta Masyarakat saat pertama kali diterbitkan.

Saat itu tepatnya tahun 1954 dengan rekomendasi langsung dari Rais 'Aam PBNU KH. Wahab Chasbullah dibentuklah surat kabar sebagai wahana kader Nahdliyin untuk belajar jurnalistik yakni Duta Masyarakat yang dipimpin Wan Asa. Meski dirinya tak lama memegang tanggung jawab dalam keredaksian Duta Masyarakat, namun Wan Asa telah cukup memberikan pondasi penting sebagai bahan untuk dikembangkan generasi muda NU dalam mengumpulkan, mengolah dan menyajikan berita kepada khalayak melalui media massa.

Pengalaman Wan Asa di dunia jurnalistik diawalinya sebagai penerjemah berita-berita atau artikel berbahasa Arab ke dalam bahasa Melayu di Kabar Harian Pemandangan. Sebelumnya dia berprofesi sebagai guru agama di sekolah.

Selain sebagai penerjemah pria kelahiran 1915 di Tanah Abang, Jakarta itu juga penulis lepas di dua media yang berpengaruh saat itu yakni harian Pemandangan dan majalah mingguan Pandji. Bahkan Wan Asa pernah menjadi pimpinan harian Pemandangan. Namun, karena dinilai seringkali menghambat pemerintahan Hindia Belanda, pemandangan dilarang terbit lagi.

Mengetahui kenyataan itu, Wan Asa tetap berusaha berkecimpung dalam dunia tinta dengan masuk Kantor Berita Jepang, Domei, sebagai Redaktur. Keberadaannya di Domei dimanfaatkan pula oleh Wan Asa untuk kepentingan tanah air tercinta, Indonesia salah satunya ketika proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan.

Ketika itu Wan Asa diberi amanah oleh Adam Malik untuk menyelipkan berita kemerdekaan Indonesia dalam Domei. Usaha itu pun berhasil dan akhirnya berita kemerdekaan Indonesia diperdengarkan melalui Kantor Berita Jepang. Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia seutuhnya, Domei beralih nama menjadi antara dengan Pimpinan Redaksi Asa Bafaqih dibantu Mochtar Lubis.

Usai kemerdekaan pula, harian surat kabar Pemandangan kembali beroperasi. Melalui harian Pemandangan, Asa seringkali membuat geram pemerintah dengan tajuk-tajuk berita yang ditulisnya salah satunya tentang rencana gaji baru PNS serta tentang modal asing yang diterima 21 perusahaan industri. Dua tajuk tersebut dinilai telah membocorkan rahasia negara serta hal sensitif untuk dibuka di ruang publik.

Akibatnya, Asa Bafaqih dituntut dengan dakwaan membocorkan rahasia negara sebab kedua tajuk yang ditulisnya belum diumumkan secara resmi kepada masyarakat. Saat persidangan Asa diminta memberitahukan siapa narasumber yang menginformasikan terkait hal itu.

Jelas saja, sebagai Jurnalis yang bertanggung jawab dan

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+