Berawal dari keinginannya membentuk sebuah komunitas yang islami atau pesantren dan meninggalkan keraton atas dasar kekecewaan terhadap Belanda yang selalu ikut campur dalam urusan keraton.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi Biografi Kyai Muqoyyim (Pendiri Pondok Pesantren Buntet Cirebon)
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Nasab
1.4 Wafat
2. Sanad Keilmuan
2.1 Guru-guru
3. Penerus
3.1 Murid-Murid
4. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1 Mendirikan Pesantren Buntet
1. Riwayat Hidup dan Keluarga Lahir
1.1 lahir
Kyai Muqoyyim bin Abdul Hadi lahir di Cirebon, ayah beliau yakni Kyai Abdul Hadi adalah Mufti Keraton Kanoman Cirebon.
1.2 Riwayat Keluarga
Suatu saat di wilayah Cirebon, tepatnya Setu, sering terjadi banjir. Masyarakat berusaha untuk mengantisipasinya, namun tetap saja banjir tidak dapat dihindari. Banjir ini berasal dari Sungai Nanggela yang tidak dapat menampung air. Ada seorang tokoh masyarakat bernama Kyai Entol Rutjitnala yang terkenal akan kesaktiannya.
Bersama anggota masyarakat, Kyai Entol membuat bendungan sebagai tempat penampungan air. Akan tetapi, bendungan ini tidak dapat menahan derasnya air, terutama pada musim hujan. Akhirnya, Kyai Entol membuat sayembara yang isinya adalah siapa saja yang mampu membuat bendungan akan dinikahkan dengan anak perempuannya yang bernama Randulawang.
Saat diumumkan sayembara ini, Mbah Muqoyyim saat itu menjabat sebagai mufti di Kerajaan Cirebon semacam Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam istilah sekarang, beliau ditunjuk menggantikan posisi ayahnya.
Karena merasa terpanggil untuk membantu masyarakat, Mbah Muqgoyyim mengikuti sayembara tersebut. Menjadi menantu Kyai Entol bukanlah tujuan utama nya, tidak ingin sendirian membangun bendungan. Beliau ingin dibantu oleh Kyai Entol yang sama-sama orang sakti. Kemudian, Mbah Muqoyyim mengeluarkan seutas benang dari dalam jubah yang dikenakannya. Lalu, benang itu dibentangkan di sepanjang bendungan.
Kyai Entol membantu dengan terus membacakan doa. Konon, benang tersebut kemudian berubah menjadi tembok kokoh yang dapat menahan banjir. Sesuai dengan perjanjiannya Mbah Mugoyyim dinilai berhasil membangun bendungan kemudian dinikahkan dengan Randulawang, putri Kyai Entol.
1.3 Wafat
Kyai Muqoyyim wafat dan dimakamkan di Kampung Tuk, Sindang Laut berdekatan dengan sahabat seperjuangan beliau, yakni Kyai Ardi Sela.
2. Sanad Keilmuan
Semenjak kecil Kyai Muqoyyim diasuh dan dididik oleh ayah beliau yaitu Kyai Abdul Hadi yang saat itu menjabat sebagai Mufti Keraton Kanoman Cirebon.
3. Penerus
3.1 Murid-murid
- Pangeran Muhammad Chaeruddin
- Kyai Ismail (Menantu Kyai Muqoyyim)
4. Perjalanan Hidup dan Dakwah
Pada akhir abad XVII atau awal abad XVIII, Belanda mulai menentukan kebijakan di Kerajaan Cirebon. Persoalan suksesi dan perdagangan selalu mendapat campur tangan Belanda. Mbah Muqoyyim yang menjadi anggota Kerajaan Cirebon merasa resah dengan kehadiran penjajah ini, kemudian mengadakan perlawanan,
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

