09 Sep 2021 · 2.352 dibaca · Kolom
Laduni.ID, Jakarta – Kalau berpolitik bukan soal beragama, berbisnis atau berdagang bukan soal beragama, bergaul bukan soal beragama, lalu yang disebut beragama itu yang mana? Shalat, puasa, zakat, haji saja?
Lalu, mengapa pejabat dilantik dan pelantikannya menggunakan kitab suci. Dan sumpahnya pun atas nama Tuhan.
Lalu mengapa masih ada orang yang nyinyir terhadap ustad atau kiyai atau ulama yang bicara koreksi terhadap kekuasaan, pejabat dan politisi.
Jika politisi mengkritik sesamanya dan kekuasaan, boleh lah curiga karena bisa jadi ada kepentingan. Setidaknya begitulah yang diyakini di dunia politik bahwa tidak ada yang abadi kecuali kepentingan. Sehingga motifnya bisa saja lebih kuat pada kepentingan diri atau kelompok daripada sekadar perbaikan.
Namun memisahkan kehidupan dari agama, termasuk politik, itu adalah kemund
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan — tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+