05 Oct 2021 · 11.814 dibaca · Artikel Keagamaan
Laduni.ID, Jakarta - Kemuliaan itu ada pada karakter seseorang, bukan pada perkataan atau penilaian orang lain terhadapnya. Karena itu, Islam tidak menggunakan parameter status sosial untuk mengukur kemuliaan seseorang, baik pada jabatan, kekayaan maupun nasabnya.
Dan Islam melarang keras memandang rendah orang lain karena status sosialnya. Bahwa Allah lebih dekat pada orang pendosa daripada orang yang merasa lebih mulia dari orang lain. Iblis jatuh pada kehinaan karena perasaan lebih mulianya pada Adam.
Allah menyebut orang yang paling mulia adalah orang yang paling bertakwa. Bisa jadi yang dihina itu justru memiliki kemuliaan di mata Allah SWT. Karena orang bertakwa tidak mungkin merendahkan ciptaan-Nya. Dalam Surat Al-Munafiqun ayat 8 disebutkan:
وَلِلَّهِ ٱلۡعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِۦ وَلِلۡمُؤۡمِنِینَ وَلَـٰكِنَّ ٱلۡمُنَـٰفِقِینَ لَا یَعۡلَمُونَ
“Kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, Rasul-Nya dan bagi orang-orang Mukmin, akan tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahuinya.”
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan — tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+