Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Zubair Muntashor
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Zubair Muntashor

wafat 1978 M · 17.305 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Zubair Muntashor Ulama Bangkalan Madura Nahdlatul Ulama Jawa Timur

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Riwayat Keluarga

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Masa Menuntut Ilmu
2.2       Guru-Guru Beliau
2.3       Mengasuh Pesantren

3          Penerus Beliau
3.1       Anak-anak Beliau
3.2       Murid-murid Beliau

4          Karier
4.1       Karier Beliau

5          Kisah-kisah 
5.1      Delapan Jam Madura-Jakarta
5.2      Kedekatan KH. Zubair Muntashor dan Santrinya

6          Referensi

7.        Chart Silsilah Sanad

1        Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1       Lahir

KH. Zubair Muntashor adalah putra pasangan KH. Muntashor, pendiri Pesantren Nurul Kholil, dan Nyai Nazhifah binti KH. Imron bin KH. Muhammad Cholil yang lebih akrab dengan panggilan Kiyai Cholil Bangkalan atau Syaichona Cholil Bangkalan. Jadi, KH. Zubair Muntashor adalah cicit Syaichona Cholil Bangkalan.

Menurut cerita salah seorang santrinya, dulu Ibu Nyai Nazhifah lama tidak mempunyai keturunan. Maka, suatu ketika, kiai Muntashor bermunajat di Mekkah. Ketika itulah, kiai Muntashor mendapat sebutir gabah, yang kemudian diberikan kepada Ibu Nyai Nazhifah. Alhamdulillah, tak berapa lama, munajat kiai Muntashor diijabahi  Allah. Ibu Nyai Nazhifah mengandung dan melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan. Anak itu pun diberi nama Zubair. Zubair kecil diasuh dan dididik langsung oleh ayahnya, yang juga salah seorang kiai terpandang di kawasan Bangkalan, dalam lingkungan keagamaan yang kuat.

2        Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

2.1       Masa Menuntut Ilmu

Ketika beliau saat berusia belasan, beliau dikirim untuk belajar di Pondok Pesantren Sidogiri, Pacitan. Di Pondok pesantren ini, beliau menghabiskan masa belajar selama tujuh tahun. “Saya mondok selama tujuh tahun. Tapi dulu saya agak mbeling, nakal,” kata KH. Zubair Muntashor suatu ketika. Semangat belajarnya saat itu memang tidak menggebu-gebu.

Namun ketika ayahanda beliau wafat, KH. Zubair Muntashor tersentak, dan menyadari bahwa beliau adalah generasi penerus satu-satu ayahnya, karena beliau anak semata wayang, yang harus melanjutkan estafet dakwah sang ayah, yang juga harus mengasuh ratusan santri di pesantren peninggalan ayahnya, Pondok Pesantren Nurul Cholil.

Beliau bingung, karena belum siap, terutama dari sisi ilmu. Maka, dengan semangat membara, yang dilandasi keikhlasan karena Allah, beliau pun berusaha keras belajar dengan cara sorogan kepada beberapa kiai di Madura. “Saya berusaha dengan ikhlas untuk belajar. Saya tidak ingin pondok peninggalan ayah mati begitu saja,” kata beliau.

Menurut salah seorang santrinya, setelah sang ayah wafat sekitar tahun 1978, beliau berusaha keras untuk belajar mendala

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+