13 Oct 2021 · 2.814 dibaca · Hikmah
Laduni.ID, Jakarta – Beberapa kalangan bertanya-tanya kenapa saya kadang memakai diksi yang kasar seperti kata "bodoh", "sesat" dan sebagainya dan tidak memakai kata yang lebih halus? Sebagian lagi bertanya kenapa kadang meladeni komentar kasar keras kepala yang seharusnya saya abaikan? Jawabannya karena seringkali saya memang tidak dalam posisi untuk menggunakan bahasa dakwah. Dengan kata lain, saya tidak sedang "berdakwah".
Dakwah berasal kata da'a yang artinya mengajak, yang namanya ajakan harus dilakukan dengan lembut, pelan dan simpatik. Kalau tidak, maka objek dakwah akan lari. Dalam bahasa dakwah, yang haram pun kadang tak bisa dikatakan haram secara vulgar tetapi diganti dengan "tidak baik untukmu". Yang jelas sesat pun tidak boleh dibilang sesat tetapi orangnya didekati hingga akrab lalu pelan-pelan diajak ke jalan yang tidak sesat.
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan — tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+