KH. Suharbillah Ulama Nahdlatul Ulama Pagar Nusa Surabaya Gresik Jawa Timur
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
1 Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
2 Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1 Masa Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru Beliau
2.3 Mengasuh Pesantren
3 Penerus Beliau
3.1 Murid-murid Beliau
4 Jasa, dan Karier
4.1 Jasa-jasa Beliau
4.1.1 Inisiator Pendiri Pagar Nusa
4.1.2 Melestarikan Tradisi Silat Pesantren
4.2 Karier Beliau
1 Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
Beliau Lahir di Desa Prambon, Tugu, Trenggalek, Jawa Timur, pada 1948, selepas Pendidikan Guru Agama di kampung halamannya, beliau nyantri di Pesantren Kedunglo, Kediri, selama setahun. Kemudian ke Surabaya melanjutkan pendidikan di Sekolah Persiapan Institut Agama Islam Negeri. Usai sekolah di Surabaya, KH. Suharbillah kembali ke Kedunglo. Baru satu tahun mondok, ayahnya wafat. Beliau pun kemudian pindah ke Surabaya mengikuti abangnya yang menjadi anggota KKO-AL (kini Marinir AL).
1.2 Wafat
KH. Suharbillah wafat pada waktu itu 25 Agustus 2014 tepatnya pada pukul 20.00 di Sedayu, Gresik, Jawa timur. Jenazahnya dimakamkan di TPU Sedayu Gresik.
2 Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1 Masa Menuntut Ilmu
Selepas Pendidikan Guru Agama di kampung halamannya, beliau nyantri di Pesantren Kedunglo, Kediri, selama setahun. Kemudian ke Surabaya melanjutkan pendidikan di Sekolah Persiapan Institut Agama Islam Negeri. Usai sekolah di Surabaya, KH. Suharbillah kembali ke Kedunglo. Baru satu tahun mondok, ayahnya wafat. Beliau pun kemudian pindah ke Surabaya. Di Surabaya, meski kuliah di IAIN, beliau ingin tetap tinggal dan mengaji di pesantren. Maka beliau pun memilih Pesantren Sidoresmo lebih dikenal dengan sebutan Pesantren Dresmo untuk nyantri. “Alhamdulillah, kok kerasan sampai sekarang. Bahkan saya masih punya kamar di asrama putra, yang saya tempati sejak pertama kali nyantri,” kenang KH. Suharbillah.
Ketika KH. Suharbillah mulai nyantri, Pesantren Dresmo diasuh oleh KH. Mas Muhajir, cicit sang pendiri. Dari kiai yang alim dan wara’ itu, KH. Suharbillah merasa ikut kecipratan berkahnya. “Dulu saya pernah sowan minta ijazah ini-itu tetapi selalu ditolak,” kenang KH. Suharbillah. “Waktu itu beliau cuma bilang, ‘Gampang, sampeyan niku tanggungan kula.’ (Gampang, Anda itu tanggungan saya). Alhamdulillah, hingga kini setiap kali menghadapi masalah berat, saya selalu mengirim surah Al-Fatihah dan bertawasul kepada Allah SWT melalui beliau, dan Allah pun selalu membukakan jalan.”
2.2 Guru-Guru Beliau
Guru-guru KH. Suharbillah saat menuntut ilmu
- KH. Mas Muhajir
- KH. Maksum Djauhari
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

