11 Nov 2021 Β· 23.163 dibaca · Ringan Riuh
Laduni.ID, Jakarta - Banyak yang menganggap bahwa menceritakan pengalaman pribadi adalah bagian dari kenorakan dan terlalu berlebihan. Anggapan ini tentu tidak melulu benar. Kapan tulisan storytelling dianggap mencederai privasi individu sangat tergantung bagaimana kita menarasikan tulisan-tulisan tersebut.
Storytelling juga tidak melulu tentang kita, tapi juga mereka. Acap kali apa yang kita tuliskan mempunyai hubungan dengan kehidupan banyak orang. Menceritakan suatu tema tertentu dengan menambahkan pengalaman pribadi biasanya lebih kuat dan otentik. Di sinilah kekuatan storytelling di media sosial sekarang menjadi penting.
Baca juga: Cerita Gus Yusuf tentang Santri yang Sering Keluar Pondok
Gampangnya, misal kita melihat data-data statistik tentang fenomena tertentu. Hal tersebut secara emosional tidak mampu mengubah perilaku dan emosi kita. Lain hal misal fenomena tersebut dinarasikan melalui
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan β tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+