KH. Ahmad Basyir AS Ulama Nahdlatul Ulama Sumenep Madura Jawa Timur
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1 Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2 Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru Beliau
2.3 Mengasuh Pesantren
3 Penerus Beliau
3.1 Anak-anak Beliau
3.2 Murid-murid Beliau
4 Organisasi, dan Karier
4.1 Riwayat Organisasi
4.2 Karier Beliau
5 Penghargaan
5.1 Kategori Tokoh Panutan Politik Bermartabat (kategori khusus)
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Ahmad Basyir AS, adalah putra dari Pahlawan Kemerdekaan KH. Abdullah Sajjad bin Syarqowi dengan Nyi. Hj. Syafiyah. Lahir dan dibesarkan di pondok pesantren terkemuka daerah Madura, pesantren tersebut dikenal dengan sebutan PP. Annuqoyah. Sejak kecil, beliau diajarkan untuk mencintai ilmu dan mengabdi untuk ilmu.
KH. Ahmad Basyir AS Lahir di Sumenep pada tanggal 10 Agustus 1930/02 Safar 1349. Lahir dan besar di lingkungan salah satu pesantren besar di Madura, sudah sejak kecil beliau ditempa untuk mencintai ilmu dan mengabdikan hidupnya untuk ilmu.
1.2 Riwayat Keluarga
KH. Ahmad Basyir AS menikah dengan Ny. Umamah Makkiyah. Dikaruniai 6 putra putri (yg masih hidup, asalnya 8 tapi meninggal 2), yang pertama Ny. Alif Layyinah, Prof Dr Abdul A’la, MA, Ny Hj Nafhah, K M Hazmi, S.Ag, Ny Hj Uswatun Hasanah, dan K Ainul Yaqin.
1.3 Wafat
KH. Ahmad Basyir AS wafat pada tanggal 15 Juli 2017. Jenazahnya dikebumikan di komplek Pondok Pesantren Annuqoyah.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
KH. Ahmad Basyir AS Pendidikannya bermula di Pondok Pesantren Annuqoyah sekitar tahun 1937-1945, kemudian melanjutkan ke Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, Jawa Timur, tahun 1949-1952. Pondok Pesantren Sidogiri adalah satu-satunya pesantren tempat KH. Ahmad Basyir muda bermukim menuntut ilmu. Beliau pernah mengaji pada KH. Syamsuri, di Tebuireng selaku menantu KH. Hasyim Asy’ari, tetapi hanya dalam rangka khataman.
Pada saat berada di Pondok Pesantren Sidogiri, beliau adalah sosok santri yang selalu siap menegur teman-temannya yang sangat minim rasa ta’dzimnya kepada guru. Bahkan ketika klompen (peccak, madura) milik KH. Cholil Nawawi selaku pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri sering hilang karena dighosab santri Jawa, beliau membeli lampu strongking ke Pasuruan untuk mencari klompen tersebut, dan ketika klompennya ditemukan beliau tak segan-segan akan memarahi santri yang nakal itu habis-habisan. Hal menarik lainnya adalah ketika beliau menjadi santri kesayangan pengasuh dan mengikuti pengajian khusus dengan KH. Zayadi (Kanigaran, Probolinggo) kepada KH. Cholil Nawawi.
2.2 Guru-Guru Beliau
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

