05 Jan 2022 Β· 1.790 dibaca · Kolom
Laduni.ID, Jakarta – Kadang saya malu, kalau ingat masa lalu waktu masih muda, saat masih labil kalau membahas fikih. Membahas fikih menggunakan pendekatan baper tapi merasa benar. (Hahaha)
Contohnya begini, ketika membahas kawin mut'ah yang dihalalkan oleh Syiah, saya biasa komen begini ke pengusung ajaran yang bagi saya sangat salah itu, "Memangnya kamu mau anak gadismu dimut'ah?" Karena malas panjang lebar, maka sisi psikologis yang dibahas, padahal tidak nyambung sama sekali dan memalukan diucapkan.
Menganggap sesuatu adalah halal bukan berarti boleh dipaksa melakukannya atau dikesankan salah apabila tidak melakukannya sebagai pembuktian. Ketika misalnya kita ditanya apakah bertamu ke rumah kita halal? Maka akan kita jawab, “Tentu saja halal.” Tapi bukan berarti orang berhak berkata, "Jadi kalau saya suruh banyak orang datang ke rumahmu dari pagi hingga malam maka harus kamu terima ya?"
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan β tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+