Laduni.ID, Jakarta – Saat itu baru dua hari saya mondok di Pondok Pesantren Darun Najaa, Jalen, Mlarak, Ponorogo. Sepulang dari sekolah di MA al-Islam, Joresan, saya melewati pematang sawah menuju pondok.
Waktu itu ada seorang yang menggunakan caping, berpakaian sederhana ala petani, sedang menjual talas kepada petani lain, keduanya duduk santai di pinggir sawah. Di sampingnya ada sepeda kumbang, alias sepeda unta. Sekilas saya mendengar obrolan transaksi jual beli talas dengan nilai tak seberapa itu.
Seusai shalat ashar di masjid pondok, saya kaget menjumpai imam shalat yang tiada lain adalah petani yang menjual talas beberapa jam sebelumnya. Ya, beliau adalah Kiai Baidlowi alias Mbah Dlowi, salah satu pengasuh pesantren Darun Najaa, selain KH. Ma'ruf Mursyidi, adik iparnya.
Dua guru saya tersebut terkenal alim dan zahid. Mbah Dlowi petani, demikian pula dengan Mbah Ma'ruf. Keduanya mengajarkan kepada kami tentang prinsip hidup. Mengajar dan bekerja sama-sama bernilai ibadah, tidak perlu memisahkan keduanya, juga tidak perlu gengsi menj
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan — tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+