09 Feb 2022 · 2.268 dibaca · Kolom
Laduni.ID, Jakarta – Di akhir abad ke-20, gerakan feminisme semakin berkembang dengan beragam corak, dari mulai konservatif, radikal, keagamaan, atheis, hetero-sexual, non hetero-sexual, dan melintasi batas ruang domestik menuju ranah global. Dunia Islam juga tidak dapat menutup diri dari pengaruh filsafat feminisme tersebut, sehingga melahirkan banyak tokoh yang mempertanyakan aspek-aspek yang selama ini sudah dianggap baku dalam pemikiran Islam, khususnya dalam memahami nas (teks) mengenai kedudukan perempuan, kebebasan dan lainnya. Sehingga gerakan feminism dalam Islam itu dipahami sebagai “a feminist discourse and practice articulated within an Islamic paradigm.” Artinya, isu-isu feminimisme yang muncul di Barat dikemas dalam paradigma Islam.
Mesir dianggap wilayah Islam pertama yang disentuh oleh pemikiran feminism. Gerakan ini dipelopori oleh Huda Sha’rawi (1879-1947) dan Saiza Nabarawi yang mendirikan the Egyptian Feminist Union (EFU) pada tahun 1923. Kedua tokoh ini sangat aktif dalam dalam gerakan femenisme dunia dan per
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan — tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+