Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Abdul Djabbar
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Abdul Djabbar

lahir 1820 M · 12.520 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Pada masa kecilnya, KH. Abdul Djabbar bernama Ngabidin dari kata-kata ‘Abid, diberinya nama itu oleh orang tuanya agar benar-benar menjadi manusia yang beribadah dengan baik.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi Profil KH. Abdul Djabbar

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Keluarga
  5. Kegiatan di Masa Muda
  6. Pembukaan Dukuh Maskumambang
  7. Mendirikan Pesantren

 

Kelahiran

KH. Abdul Djabbar dilahirkan pada tahun 1241H bertepatan dengan tahun 1820 M. Pada masa kecilnya, KH. Abdul Djabbar bernama Ngabidin dari kata-kata ‘Abid, diberinya nama itu oleh orang tuanya agar benar-benar menjadi manusia yang beribadah dengan baik.

Wafat

Wafat pada tahun 1325 H dalam usia 84 tahun.

Pendidikan

Beliau pergi menuntut ilmu di suatu pondok pesantren yang terdapat di daerah Sidoarjo, tepatnya yaitu di desa Ngelom. Kemudian beliau melanjutkan menuntut ilmunya di Tugu Kedawung, Kabupaten Pasuruan. Setelah dirasa cukup dalam menuntut ilmu, beliaupun kembali ke daerahnya dan menikah dengan Nyai Nursimah, putri dari Kyai Idris, Kebondalem Boureno Bojonegoro.

Beberapa tahun kemudian, Abdul Djabbar beserta istrinya menunaikan ibadah haji. Selama di Mekkah, KH.Abdul Djabbar mengaji kepada beberapa ulama besar yang membuka pengajian di sekitar Masjidil Haram.

Keluarga

Diceritakan pada abad 12 H atau 18 M, ada seorang Kepala Kampung (Demang) di desa Kalimati (sekarang Kalirejo) Kecamatan Dukun Sedayu, Kabupaten Gresik, Jawa Timur (desa tepi utara sungai Bengawan Solo) bernama Wirosari.

Beliau adalah seorang kepala kampung yang sangat berpengaruh di lingkungannya, sehingga oleh Bupati pada waktu itu diberi gelar Kudo Leksono. Kudo Leksono adalah putra dari Nyai Siman Binti Nyai Sarimah binti Ongkoyudo bin Abdillah bin Abdul Djabbar (alias Kusumoyudo) dan pangeran Selarong bin Pangeran Bawono bin Pangeran Pajang alias Lembupeteng alias Joko Tingkir dan seterunsya sampai ke Brawijaya Mojopahit.

Wirosari atau Kudo Leksono meninggalkan 3 orang keturunan yang bernama Kadiyun, Kasli dan Nasik. Nasik tidak berketurunan. Kasli hanya mempunyai seorang putra yaitu Saib. Dari beliau lahir 3 orang anak yaitu:

  1. Aminah
  2. Ahyad
  3. Siroj

Sedang dari Kadiyun yang berkedudukan di Sedayu (Ibukota Kabupaten Gresik pada waktu itu) berketurunan 3 orang anak pula, mereka ialah:

  1. KH. Abdul Djabbar
  2. K. Munibun,
  3. Nyai Ngapiani atau Nyai Utami

Sebelum kita sebut putra-putra KH. Abdul Djabbar, baiklah kita sebutkan dahulu putra-putra Nyai Utami dan Kyai Munibun. Nyai Utami menetap di desa Pringgoboyo, Pangkatrejo, Lamongan dan mempunyai 3 orang putra yaitu:

  1. Ismail
  2. Mutmainah
  3. Abdul Qohar

Kyai Manibun tinggal di desa Sumur,Panceng Kabupaten Gresik. Beliau dikaruniai 4 orang anak yaitu:

  1. Ghofar
  2. Masyhadi
  3. Abd. Muid CH. Malkan
  4. Abd. Ghofur

Sedang Kyai Abdul Djabbar yang tinggal di desa Maskumambang, Dukun Kabupaten Gresik mempunyai 10 orang anak yang bekembang sehingga menjadi keluarga besar yang mengikat diri menjadi satu keluarga yang bernama Ikatan Keluarga Kyai Abdul Djabbar atau disingkat IKKAD. Kesepuluh putra KH. Abdul Djabbar tersebut adalah:

  1. KH. Rois
  2. Nyai Hj. Alimah
  3. KH. Abu Dzarrin

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+