Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Nur Hasyim, Pendiri Pesantren Nurul Huda Soko, Tuban
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Nur Hasyim, Pendiri Pesantren Nurul Huda Soko, Tuban

1924 – 1994 M · 15.913 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Nur Hasyim merupakan pendiri Pesantren Nurul Huda Soko, Tuban, Madrasah Aliyah (MA), Tarbiyatul Islam pada 1979 dan satu Yayasan Pendidikan Islam Nurul Huda (YAPISNU).

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi:

1.         Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Riwayat Keluarga
1.3       Wafat

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1       Pendidikan
2.2       Guru-Guru

3.         Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1       Mendirikan Pesantren
3.2       Mendirikan Lembaga Pendidikan

4.         Karir Beliau
5.         Karya-Karya
6.         Teladan
7.         Chart Silsilah Sanad
8.         Referensi

1. Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1  Lahir
KH. Nur Hasyim, menurut catatan silsilah yang dibuat di Soko pada September 1990, beliau merupakan anak bungsu dari sepuluh bersaudara, lahir di Desa Mojoagung, Kecamatan Soko, tanggal 24 April 1924 Masehi atau 20 Ramadhan 1342 Hijriah dari pasangan Bapak Mohammad Rowi Mojoagung, Soko dengan ibu Siti Habibah asal Lamongan yang memiliki garis keturunan sampai ke Pangeran Hadi Widjaya atau Sultan Pajang yang dikenal dengan sebutan Joko Tingkir.

1.2   Riwayat Keluarga
Setelah berupaya keras dengan memulai berjuang mendirikan MI, di tahun yang sama, KH. Nur Hasyim menikah dengan seorang gadis asal Desa Sawahan, Kecamatan Rengel bernama Nyai Siti Mu’tiah binti Ahmad Musyafak. Dari pernikahannya beliau dikaruniai delapan anak. Di antaranya: Nyai Umi Nasikhah, Nyai Luluk Muftiyah, Nyai Anisa’i Khoiriyyah, Gus M. Ali Mufthi, Gus Hadi Masruri, Nyai Rofih Kholiliyah, Nyai Asadullah Khoiri, dan Gus Khoirul Muttaqim.

1.3 Wafat
KH. Nur Hasyim wafat pada hari Senin, 15 Juni 1994, Jenazah beliau dimakamkam di makam umum Desa Sokosari. Setiap Muharam diadakan haul untuk memperingati jasa perjuangnnya.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan

2.1 Pendidikan
KH. Nur Hasyim mengenyam pendidikan formalnya di Sekolah Dasar (SD) Tanggungan, Desa Pandanwangi Soko, karena waktu itu pendidikan agama masih dibatasi. Apalagi berbasis NU masih dilarang. Tapi, hal itu tidak menyurutkan niat untuk belajar. Selain itu, beliau juga tekun mengaji kepada abahnya.

Setelah lulus SD, beliau ingin mendalami pendidikan agamanya, sehingga melanjutkan ke pondok di Pondok Pesantren Abu di Dusun Beron, Desa Punggulrejo selama 5 tahun yang di asuhan oleh KH. Musyafak. Dirasa kurang dalam mendalami ilmu agama, beliau melanjutkan di Desa Ngumpakdalem, Kendal Bojonegoro. Berbagai ilmu beliau kuasai, di antaranya: fiqih dan tasawuf. Bakat menjadi mubalig sudah terlihat sejak usia 20 tahun.

KH. Nur Hasyim tidak kenal lelah menuntut ilmu, sehingga kembali mondok. Pondok yang dituju yakni Pesantren Tebuireng Jombang, yang pengasuhnya waktu itu adalah tokoh sekaligus pelopor berdirinya NU, KH. Hasyim Asy’ari menjadi tujuannya. Kala itu jiwa mandiri KH. Nur Hasyim s

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+