Siti Fatimah yang juga dikenal dengan nama Putri Dewi Retno Swari atau Dewi Swara, adalah puteri dari seorang pria yang bernama Maimun asal negeri Iran. Ibunya bernama Dewi Aminah yang berasal dari Aceh dan melahirkannya pada 1064 Masehi. Sumber lain menyebut bahwa Siti Fatimah binti Maimun bin Hibatullah berasal dari negeri Negeri Kedah yang ada di Malaka.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan Fatimah binti Maimun
2.1 Guru Fatimah binti Maimun
3. Perjalanan Dakwah Fatimah binti Maimun
4. Keteladanan Fatimah binti Maimun
5. Referensi
1 Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
Siti Fatimah yang juga dikenal dengan nama Putri Dewi Retno Swari atau Dewi Swara, adalah puteri dari seorang pria yang bernama Maimun asal negeri Iran. Ibunya bernama Dewi Aminah yang berasal dari Aceh dan melahirkannya pada 1064 Masehi. Sumber lain menyebut bahwa Siti Fatimah binti Maimun bin Hibatullah berasal dari negeri Kedah yang ada di Malaka..
1.2 Wafat
Fatimah binti Maimun bin Hibatullah wafat pada tahun 1082 M. Batu nisannya ditulis dalam bahasa Arab dengan huruf kaligrafi bergaya Kufi, nisannya merupakan nisan Islam tertua yang ditemukan di Asia Tenggara. Makam Fatimah berlokasi di Desa Leran, Kecamatan Manyar, Kota Gresik, Jawa Timur.
2 Sanad Ilmu dan Pendidikan Fatimah binti Maimun
Beliau dididik dan dibesarkan oleh ayahanda yang bernama Maimun bin Hibatullah berasal dari negeri Iran.
2.1 Guru Fatimah binti Maimun
Maimun bin Hibatullah
3. Perjalanan Dakwah Fatimah binti Maimun
Selain sebagai penyebar agama, beliau juga dikenal sebagai saudagar perdagangan yang andal dan melalui kegiatan berdagang itulah ketiganya juga menyebarkan agama Islam. Maka, tak salah rupanya jika wanita ini disebut-sebut wanita paling kaya kala itu.
Ketika menginjak usia remaja, ia telah memiliki kepandaian berdagang mengikuti jejak perjalanan ayah dan ibunya ke tanah Jawa. Mereka bertiga medaratkan perahu mereka di wilayah desa Leran kecamatan Manyar, sekitar 10 kilometer arah barat kota Gresik dengan melewati jalur pantura.
Dikisahkan, ketika itu Fatimah yang memiliki kepandaian sebagai saudagar mulailah melakukan perdagangan barang-barang hingga sampai ke wilayah pusat kerajaan Majapahit yang waktu itu konon diperintah oleh Prabu Brawijaya. Sambil berdagang, beliau juga menyebarkan Agama Islam.Kurang lebih setahun Fatimah berdagang di pusat kerajaan Majapahit dan akhirnya kembali ke Leran.
Namun malang, sekembalinya Siti Fatimah dari berdagang tersebut berbarengan dengan musibah penyakit pagebluk di desa Leran. Banyak yang meninggal akibat pagebluk tersebut, termasuk yang akhirnya menjadi korban meninggal adalah Fatimah beserta dua belas pengikut setianya.
Prabu Brawijaya yang konon mendengar berita tentang kematian saudagar wanita dan pengikutnya itu, kemudian membangunkan bangunan cungkup berbentuk candi. Meski telah mengalami perbaikan dan renovasi, situs berbentuk candi itu tetap terawat baik hingga sekarang. Dalam cungkup yang di dalamnya terdapat makam Fatimah beserta pengikutnya yang berjumlah empat orang yaitu putri Kamboja, Kuching, Keling dan Seruni. Kerabat dan pengikut lainnya yang berjumlah tujuh orang pria, makamnya terdapat di luar cungkup.
Ditemukannya nisan Fatimah di Gresik, pesisir utara tanah Jawa membuktikan bahwa adanya rute perdagangan saudagar Muslim yang melalui Selat Malaka dan Semenanjung Malaya hingga ke Tiongkok yang berdampak adanya kontak langsung dengan pantai utara Ja
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

