KH. A. Yasin Asymuni berpegang prinsip bahwa orang yang mempunyai ilmu agama tidak boleh kitmanul ilmi (menyimpan dan merahasiakan ilmunya).
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Gemar Membaca
3.2 Pengurus Bahtsul Masail
3.3 Diangkat Menjadi Guru
3.4 Mendirikan Pesantren
4. Karya-Karya
5. Chart Silsilah Sanad
6. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Ahmad Yasin Asymuni lahir pada tanggal 8 Agustus 1963 M, beliau merupakan putra dari pasangan KH. Asymuni dan Nyai Hj. Muthmainah. Kyai Ahmad Yasin saat usia balita dan anak-anak sama seperti teman-teman seusianya, suka bermain, dan seterusnya. Tetapi semenjak umur 6 tahun sampai 12 tahun mulai terlihat tanda-tanda sebagai penerima tongkat estafet perjuangan ajaran ulama pewaris Nabi.
Beliau lebih cerdas dan lebih dewasa dibandingkan dengan teman-teman seusianya. Ketika bermain bersama temanya, beliau selalu dijadikan pemimpin. Lebih dari itu, beliau bahkan bisa mendamaikan teman-temannya apabila berselisih atau bertengkar.
1.2 Wafat
KH. Ahmad Yasin Asymuni wafat pada hari Senin, 11 Januari 2021 ba’da Subuh dan dimakamkan di Pemakaman Komplek Pesantren.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Sejak usia 6 tahun, Kyai Ahmad Yasin di samping sekolah dasar (SD) pada pagi hari, sore harinya mengikuti sekolah di MIN (Madrasah Ibtidaiyah Negeri), dan pada malam harinya diajar sendiri oleh Ayahnya, dalam membaca Al-Qur’an, menulis Arab, memahami dasar-dasar kaidah fiqih, tajwid, dll.
Hari, bulan, dan tahun terus berputar, sementara usia Kyai Ahmad Yasin semakin bertambah dan keilmuannya juga terus berkembang. Pada tahun 1975 M, KH. Ahmad Yasin telah lulus SD kemudian melanjutkan sekolah di Madrasah Hidayatul Mubtadiien, Lirboyo, Kota Kediri yang berjarak kurang lebih sekitar lima km dari Dusun Petuk dengan penuh semangat.
Setiap hari perjalanan antara Lirboyo-Petuk ditempuh dengan naik sepeda pancal. Tiga tahun kemudian Kyai Ahmad Yasin sudah menyelesaikan sekolah tingkat Tsanawiyah, kendati sebagai siswa "nduduk" atau tidak menetap di pondok, Kyai Ahmad Yasin dinobatkan sebagai siswa teladan di Pondok Pesantren Lirboyo.
Padahal belum pernah terjadi seorang siswa yang "nduduk" menjadi siswa teladan. Satu-satunya adalah Kyai Ahmad Yasin. Kemudian, supaya bisa lebih meningkatkan aktivitas belajar, mulai tahun pertama masuk sekolah tingkat Aliyah, Kyai Ahmad Yasin bermukim di Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri.
Pada tahun 1982 M Kyai Ahmad Yasin sudah menyelesaikan (tamat) pendidikan tingkat Aliyah Madrasah Hidayatul Mubtadiin Lirboyo yang kemudian dilanjutkan dengan menempuh pendidikan Ar-Rabithah di pesantren yang sama.
2.2 Guru-
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

