Ibnu 'Asakir merupakan 'ulama yang menguasai berbagai disiplin ilmu dan sangat produktif, seperti Hadits dan Sejarah. Salah satu karyanya adalah Kitab at-Tarikh al-Kabir atau yang kita kenal dengan nama Tarikh Dimasyq
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi Biografi Ibnu 'Asakir
- Kelahiran
- Wafat
- Keluarga
- Pendidikan
- Teladan
- Pujian Ulama kepada Ibnu Asakir
- Karya Kitab
- Chart Silsilah Sanad
- Referensi
1. Kelahiran
Nama lengkapnya adalah Abu al-Qasim 'Ali bin Abi Muhammad al-Hasan bin Hibatullah bin 'Abdillah bin Husain al-Hafizh dan terkenal dengan nama Ibn 'Asakir. Beliau berasal dari Damaskus dan lahir pada tahun 499 H.
Baca juga: Biografi Syekh Kamaluddin Ibnu Imam al-Kamiliyyah
2. Wafat
Ibnu 'Asakir wafat pada tahun 571 H dalam usia 72 tahun.
3. Keluarga
Ayahnya, yaitu al-Hasan bin Habbatullah, merupakan seorang ulama mazhab as-Syafi’ yang wafat tahun 519 H/1125 M. Ibnu Asakir memiliki tiga saudara; dua saudara laki-laki dan satu saudara perempuan, yaitu: Hibatullah Al-Hasan al-Sha’in (w. 563 H/1167 M); seorang ahli fiqih, Muhammad bin Al-Hasani; seorang qadhi di Damasku, dan adik perempuan yang (tidak diketahui namanya) dinikahi Muhammad bin Ali bin al-Fath Al-Salami.
4. Pendidikan
Ibnu Asakir memulai perjalanannya mencari ilmu di Baghdad. Pada tahun 520 H/1126 M, saat itu Ibnu Asakir menginjak usia 21 tahun. Sambil terus belajar, ia juga mengisi waktunya dengan mengajar. Pengetahuannya yang luas tentang riwayat-riwayat hadits ia dapatkan ketika mengumpulkan matan-matan, sanad-sanad, menghafal, dan membaca. Kesungguhannya ini membuatnya mencapai derajat seorang ahli hadits dan ulama. Ia tidak berpuas diri hanya dengan mendapatkan ilmu Dari halaqah-halaqah, masjid-masjid, madrasah-madrasah, dan para ulama di Damaskus. Ia berusaha untuk mendapat sesuatu yang lebih. Akhirnya, ia memutuskan untuk bersafar keluar Damaskus. Belajar hadits dari ulama-ulama dan ahli fikih ternama.
Dalam pengantar Tarikh Ibnu Asakir jilid satu, Shalahuddin al-Munjid mengatakan, “Perjalanannya dalam belajar hadits dan mendengar dari banyak guru memiliki pengaruh yang signifikan. Tak seorang ahli hadits besar pun dalam perjalannya ia lewatkan. Sehingga ia memperoleh sanad yang tinggi. Pusat-pusat ilmu tersebar di wilayah-wilayah Islam. Banyak ulama dan ahli fikih yang membagi-bagi ilmu mereka. Saat itu halaqah-halaqah belajar dan diskusi digelar di madrasah-madrasah dan masjid-masjid oleh para ahli fikih, ahli hadits, dan ulama-ulama”.
Kota Baghdad di masa itu adalah surga dunia karena keindahan tata kotanya. Kota yang menjadi pusat ilmu. Dan banyak dikunjungi oleh orang-orang dari penjuru negeri. Walaupun banyak kota-kota ilmu fikih dan hadits di wilayah Islam, seperti: Mesir, Mekah, Madinah, Khurasan, Naisabur, Ashbahan, Hirah, Thus, dll. namun Baghdad tetap menjadi kota yang utama. Penduduk Baghdad dikenal sebagai orang yang paling bersemangat dalam mempelajari dan menulis hadits. al-Khatib al-Baghdadi mengatakan, “Penduduk Baghdad dikenal sebagai orang-orang intelektual dan teliti dalam meriwayatkan hadits dan adabnya. Mereka adalah orang-orang yang paling berhati-hati dalam meriwayatkannya. Mereka dikenal dengan sifat ini” (Tarikh Baghdad oleh al-Khatib al-Baghdadi)
Pada tahun 521 H, Ibnu Asakir pergi menuju Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Ia menggunakan kesempatan ini untuk mendengar riwayat hadits dari ulama-ulama Mekah, Mina, dan Madinah. Di antranya Abdullah bin Muhammad al-Mishri dan Abdul Khalaq bin Abdul Wasi’ al-Hawari.
Saat kembali ke B
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

