Nama lengkap beliau adalah Abdul Wahab bin Taqiyuddin 'Ali bin Abdul Kafy as-Subky.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi Profil Imam Tajuddin As-Subki
Kelahiran
Abdul Wahab bin Taqiyuddin 'Ali bin Abdul Kafy as-Subky atau yang kerap disapa dengan panggilan Imam Tajuddin As-Subki lahir pada tahun 727 H / 1327 M, di Kairo, Mesir.
Wafat
Imam Tajuddin As-Subki meninggal pada tanggal 7 Dzulhijjah tahun 771 H pada usia yang masih terbilang muda yaitu 44 tahun. Sebelum meninggal ia menderita penyakit keras hingga akhir hayatnya.
Pendidikan
Imam Tajuddin As-Subki banyak belajar pada para ulama' yang ada di Mesir. Kemudian pindah ke Damaskus untuk menggali ilmu pada ulama' di sana. Beliau berguru pada banyak Masyayikh. Diantaranya: Imam Taqiyuddin as-Subky (ayah beliau), Imam al-Dzahaby, dan Syamsuddin bin Naqib. Imam Tajuddin mendapat ijazah (izin) dari gurunya yang bernama Syamsuddin untuk mengajar dan memberi fatwa. Oleh karena itu, kemudian as-Subky (sebutan bagi Tajuddin as-Subky) memberi fatwa pada saat ia masih berumur 18 tahun.
Ketika Taqiyuddin, ayah as-Subky, sakit maka Imam Tajuddin ditunjuk untuk menggantikan ayahnya menjadi qadli di Damaskus. Ia merupakan hakim paling terkemuka di masanya, juga termasuk pakar sejarah dan ilmuwan peneliti. Syihabuddin bin Hajjy mengatakan bahwa as-Subky adalah seorang ulama' yang menguasai berbagai ilmu, mulai dari ilmu fiqh, Ushul Fiqh, Hadist, Balaghah, dan ahli membuat syair. Beliau mengarang berbagai macam karangan dalam waktu yang singkat dan disebarkan pada saat beliau masih hidup serta saat beliau telah wafat.
Tajuddin al-Subki mendapatkan perhatian besari dari ayahnya, Syeikh Taqiyuddin al-Subki. Setiap kali Tajuddin al-Subki pulang dari menghadiri majelis guru-gurunya, ayahnya selalu mengecek pelajarannya dan menanyakan, “Apa yang telah engaku dapat dari al-Syaikh?”. Ayahnya memang seorang ulama kesohor di Kairo. Jabatannya seorang hakim Negara, menulis banyak karya di bidang fikih, ushul fikih dan tasawwuf.
Perjalanan menimba ilmu dimulai di Mesir kepada sejumlah masyayikh. Kemudian ayahnya membawa dia ke Negeri Syam tepatnya ke kota Damskus, dimana pada waktu itu Damaskus adalah kota ilmu. Ia belajar hadis kepada Syaikh al-Mizzi. Juga berguru kepada Imam al-Dzahabi.
Guru-Guru
Guru-gurunya adalah, Syaikh Ali bin Abdul Kafi Taqiyyudin al-Subki (ayahnya), Imam al-Dzahabi, Jamaluddin Yusuf bin Abdurrahman al-Mizzi al-Syafi’i,
Pada umur 18 tahun Imam Tajuddin diberi izin oleh gurunya Syaikh Syamsuddin al-Naqib untuk mengajar dan memberi fatwa. Bahkan ia pun lantas diangkat menjadi hakim dan khatib di Masjdi Umawiy Damaskus. Di usia yang masih muda mampu mengemban tugas sebagai ulama, Qadhi dan Imam besar di Damaskus. Sebuah prestasi luar biasa yang sudah cukup jarang ditemui pada masa ini.
Sosok Ilmuwan
Imam Tajuddin As-Subki merupakan hakim paling terkemuka di masanya, juga termasuk pakar sejarah dan ilmuwan peneliti. Syihabuddin bin Hajji mengatakan bahwa as-Subky adalah seorang ulama’ yang menguasai berbagai ilmu, mulai dari ilmu fiqh, Ushul Fiqh, Hadist, Balaghah, dan ahli membuat syair.
Ketika menjabat sebagai Qadhi dan Imam besar, ia pernah mendapat fitnah pemerintah sehingga mengakibatkan ia dipenjara selama delapan puluh hari. Ibnu Katsir menceritakan bahwa, Imam Tajuddin al-Subki mengalami cobaan-cobaan berat yang belum pernah dialami oleh qadhi sebelumnya. Namun ia pun menjabat suatu j
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

