KH. Muhammad Nawawi lahir pada 1886 di Dusun Lespadangan, Desa Terusan, Kecamatan Gedeg, Mojokerto. Ayahnya, Munadi, dan ibundanya bernama Siti Khalimah.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
1.3 Riwayat Keluarga
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru Beliau
2.3 Merintis Pesantren
3. Penerus Beliau
3.1 Anak-anak Beliau
4. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1 Jasa-jasa Beliau
4.2 Karier Beliau
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Muhammad Nawawi lahir pada tahun 1886 di Dusun Lespadangan, Desa Terusan, Kecamatan Gedeg, Mojokerto. Ayahnya bernama Munadi, dan ibundanya bernama Siti Khalimah.
1.2 Wafat
KH. Muhammad Nawawi telah memperlihatkan kepemimpinannya saat terlibat langsung dalam pertempuran melawan tentara Belanda di garis depan. Hingga akhirnya beliau gugur sebagai seorang syuhada yang membela agama dan negara pada tanggal 22 Agustus 1946. Sebelum mengembuskan nafas terakhir, beliau sedang mengikuti pertempuran di Desa Plumbungan, Kecamatan Sukodono, Sidoarjo.
1.3 Riwayat Keluarga
Munadi ayah beliau mempunyai teman akrab seorang guru mengaji atau kyai kampung yang bernama Kyai Syafi'i, warga Balongsari I, Kelurahan Balongsari, Magersari, Kota Mojokerto. Kyai Syafi'i pun berniat menjodohkan putrinya, Nafisah dengan Kyai Nawawi. Gayung pun bersambut, ayah beliau menyetujui niat mulia tersebut sebab sudah memahami akhlak Nafisah.
Sepulang dari menuntut ilmu pada tahun 1914 di usia sekitar 28 tahun, KH. Muhammad Nawawi kemudian menikah dengan Nyai Nasifah. Setelah menikah beliau dipercaya oleh Kyai Syafi’i untuk mengasuh Pondok Pesantren Mangunrejo. Pasangan pengantin baru ini tinggal serumah dengan Kyai Syafi'i. Buah pernikahan ini, mereka dikaruniai 9 anak, yaitu Siti Amnah, Mardiyah, Ismail, Mansur, Marzuki, Yahya, Ubaidah, Wasiah, dan Badriyah. Nafisah wafat setelah 20 tahun menjadi istri KH. Nawawi.
KH. Muhammad Nawawi menyunting istri keduanya, Nyai Bannah dari Pesantren Gayam dan dikaruniai 5 putra-putri, yaitu, Muhaimin, Ahmad Chumaidi, Malikhatin, Mohammad Sonhadji, serta Anik Ukhuwah.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
Pendidikan ilmu tauhid dan akhlak diterima KH. Muhammad Nawawi sejak usia dini. Jika Khalimah mengajari putranya mengaji, Munadi menempanya dengan ilmu ketuhanan dan budaya malu. Ya, Kyai Nawawi kecil sudah diajari malu untuk gagal, malu melanggar aturan dan etika di masyarakat, serta malu bersikap sombong sehingga selalu rendah hati.
Pesantren menjadi tempat Kyai Nawawi menimba ilmu sejak usianya baru 7 tahun, ayah beliau menitipkannya ke pesantren yang diasuh Kyai Ilyas alias Kyai Sholeh di Penarip gang 2, Kelurahan/Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto sekitar tahun 1893. Di pesantren ini, Kyai Nawawi muda mempelajari Al-Qur'an dan kitab-kitab klasik, mendapatkan doktrin melawan penjajah, bekal ilmu bela diri aliran Cirebonan, Jabar dari Kyai Ilyas.
Setelah dirasa cukup dan usianya sudah belasan tahun, KH. Muhammad Nawawi diarahkan Kyai Ilyas melanjutkan pendidikan di Pondok
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

