KH. Abdul Fattah beliau adalah putera pertama dari pasangan ayahanda Kiyai Ahmad Rais dan ibu Teminah, beliau lahir pada tahun 1911 di Desa Siman Kecamatan Sekaran. Kiyai Ahmad Rais adalah tokoh masyarakat dan agama yang menjabat sebagai modin Desa Siman pada waktu itu.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
1.3 Riwayat Keluarga
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru Beliau
2.3 Mendirikan Pengasuh Pesantren
3. Penerus Beliau
3.1 Anak-anak Beliau
4. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1 Karier Beliau
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Abdul Fattah beliau adalah putera pertama dari pasangan ayahanda Kiyai Ahmad Rais dan ibu Teminah, beliau lahir pada tahun 1911 di Desa Siman Kecamatan Sekaran. Kiyai Ahmad Rais adalah tokoh masyarakat dan agama yang menjabat sebagai modin Desa Siman pada waktu itu.
1.2 Wafat
KH. Abdul Fattah wafat pada tanggal 8 Juli tahun 1992 bertepatan dengan tanggal 7 Muharram 1413 Hijriah wasiat beliau meminta untuk dimakamkan di makam Desa Siman, bercampur dengan masyarakat Desa Siman, dan tidak mau dimakamkan sendiri. Hal tersebut karena KH. Abdul Fattah sangat dekat dengan masyarakat Desa Siman dan tidak memandang segala tingkatan dalam kehidupannya.
1.3 Riwayat Keluarga
KH. Abdul Fattah menikah dengan seorang gadis bernama Marwiyah binti H. Abdullah dari Desa Cangaan Kecamatan Kanor Bojonegoro, dan dari pernikahannya ini beliau dikaruniai tujuh orang putra dan satu orang putri.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
Pada tahun 1922 ketika beliau berusia 13 tahun beliau memulai karir studinya di berbagai pondok pesantren baik yang pesantren yang sudah terpandang maupun yang belum terpandang. Dimulai tahun 1922 beliau pertama kali menginjakkan kakinya dipesantren di Desa Miru dibawah asuhan Kyai Shoim, di pesantren ini beliau hanya mondok selama satu tahun.
Kemudian pada tahun 1923 beliau pindah pesantren di Desa Sungegeneng untuk menuntut ilmu pada Kyai Haji Abu Ali, disini beliau juga hanya satu tahun. Selanjutnya pada tahun 1924 beliau menuju pondok pesantren di Desa Kebalandono dibawah asuhan Kyai haji Khozin selama kurang lebih tiga tahun sampai dengan tahun 1926. Di pesantren ini beliau memulai belajar ilmu Nahwu Shorof( ilmu tata bahasa bahasa Arab).
Berkat ketekunan dan kesungguhan beliau dalam waktu tiga tahun itu beliau telah dapat membaca kitab kuning ( kitab yang bertuliskan bahasa arab gundul tanpa harokat yang dicetak menggunakan kertas berwarna kuning).
Dilanjutkam pada tahun 1927 beliau melanjutkan jenjang studinya ke pondok pesantren Langitan Tuban. Di pesantren ini beliau menghabiskan usia mudanya untuk menuntut berbagai disiplin ilmu agama mulai dari ilmu Tauhid, Hadis, fiqh, dan sebagainya kepada Kiyai Haji Abdul Hadi. Kepada Kiyai Abdul Hadi ini beliau betul-betul berkhidmat dalam segala bentuk kehidupannya. Dibawah asuhan Kyai Haji Abdul Hadi beliau menghabiskan waktunya kurang lebih selama 13 tahun yaitu, mulai tahun 1927 sampai dengan tahun 1939.
Tahun 1940 beliau KH. Abdul Fattah atas izin Kiyai Haji Abdul Hadi meneruskan pendidikan pesantrennya ke pesantren Kasingan Rembang Jawa Tengah di bawah asuhan KH. Ahmad Kholil selam
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

