KH. Ahmad Haris Shodaqoh, tepatnya di desa Bugen Kelurahan Telogosari Wetan, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang pada tanggal 01 Januari 1953. Dalam buku Silsilah Keluarga Bani Shodaqoh, dirinya merupakan putra keempat dari pasangan KH. Shodaqoh Hasan dan Hikmah.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru
2.3 Mengasuh Pondok Pesantren
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Karier
3.2 Karya-Karya
4. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Ahmad Haris Shodaqoh, lahir pada tanggal 01 Januari 1953, di tepatnya di Desa Bugen Kelurahan Telogosari Wetan, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, beliau merupakan putra keempat dari pasangan KH. Shodaqoh Hasan dan Hikmah.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
Masa anak-anak KH. Ahmad Haris Shodaqoh dihabiskan dalam lingkungan Desa Bugen, beserta teman-teman dari kalangan santri. Hal tersebut mengingat kakeknya yaitu Kyai Aburrosyid, ayah dari ibunda KH. Ahmad Haris Shodaqoh, Hj. Hikmah, merupakan pendiri Pondok Pesantren Al-Itqon. Sebagaimana hal tersebut dijelaskan oleh Ustadz Khaliq, “Mbah Yai (Kyai Ahmad Haris Shodaqoh) ayah beliau (Kyai Shodaqoh Hasan) dari jalur menantu Pondok Pesantren Al-Itqon”.
Lebih lanjut, terkait nama Al-Itqon, KH. Ahmad Haris Shodaqoh menerangkan bahwa “sebelumnya namanya Al-Irsyad”. Dirinya menjelaskan bahwa Al-Irsyad ialah nama Pesantern Al-Itqon pada mulanya. Nama Al-Irsyad ialah pada masa ayah, yaitu Kyai Shodaqoh Hasan, sedangkan pada masa sebelumnya, yaitu kakeknya, Kyai Abdurrosyid, bahkan nama Al-Irsyad pun belum ada. Pada masa kepemimpinan KH. Ahmad Haris Shodaqoh, barulah pondok pesantren yang mulanya bernama Al-Irsyad, berganti nama menjadi Al-Itqon.
Latar belakang penggantian nama tersebut, sebab kala itu, nama Al-Irsyad telah banyak ditemukan dan cenderung pada pemahaman garis keras yang tidak sesuai dengan paham-paham yang dianut pesantren. Maka KH. Ahmad Haris Shodaqoh tidak ingin nama pesantren manjadi membingungkan pada kalangan luas terkait nama Al-Irsyad dengan karakter yang seperti apa Al-Irsyad yang dimaksud.
Oleh sebab itu, bergantilah nama menjadi Al-Itqon, diambil dari nama sebuah kitab karya Imam Jalāluddīn Al-Suyūṭī yang begitu dikagumi olehnya, serta menurutnya pula, bahwa segala hal bersumber inti pada Al-Qur’an. Adapun masa belajar KH. Ahmad Haris Shodaqoh belajar di daerah Bringin, Poncol, Salatiga, di mana dirinya sekaligus dibina dan diasuh oleh kakak dari ayahnya yaitu Kyai Ahmad Asy’ari. Seusai hal tersebut, KH. Ahmad Haris Shodaqoh melanjutkan belajarnya ke Pesantren Lirboyo Kediri asuhan Kyai Mahrus Ali dan Kyai Marzuqi. Seusai dari Lirboyo, dirinya kembali ke Salatiga Semarang dan melanjutkan ke Perguruan Tinggi IAIN Salatiga.
Proses pendidikan formalnya tidak ia selesaikan karena ia memilih fokus menjadi santri kalong dari para Kyai kharismatik seperti Kyai Maimoen Zubair, Kyai Ahmad Hasan Asy’ari dan para kyai-kyai kharismatik lainnya dan bahkan mengabdikan diri sebagai buruh hingga di Pondok Pesantren Banten.
2.2 Guru-Guru
1. KH. Ahmad Asy’ari
2. KH. Mahrus Ali Lirboyo
3.
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

