Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Bahruddin Kalam, Mursid Tarekat Thoriqoh Naqsyabandiyah Pasuruan
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Bahruddin Kalam, Mursid Tarekat Thoriqoh Naqsyabandiyah Pasuruan

lahir 1926 M · 5.049 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Mohammad Bahruddin (almarhum) kelahiran Juwet-Porong-Sidoarjo, 1346 H/1926 M

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Riwayat Keluarga

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1  Mengembara Menuntut Ilmu
2.2  Guru-Guru Beliau
2.3  Mendirikan Pondok Pesantren

3.    Penerus Beliau
3.1  Anak Beliau

4.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1  Karier Beliau

5.    Referensi

1.  Riwayat Hidup dan Keluarga 

1.1 Lahir
KH. Mohammad Bahruddin (almarhum) kelahiran Juwet-Porong-Sidoarjo, 1346 H/1926 M. Ayah beliau bernama Kyai Kalam kelahiran Trenggalek, dan sekarang menetap di Dusun Juwet-Porong-Sidoarjo. Dan Ibunya bernama Nyai Safurotun, kelahiran Pelem-Kertosono-Nganjuk. Beliau mempunyai saudara sebanyak 12 orang yaitu; Adinah, Mustajib, M. Bahruddin, Asmuri, Asro, Slamet, Jami’atun, Nafi’atun, Abd. Manaf, Abd. Manan, dan Habisun.

1.2 Riwayat Keluarga
Kemudian beliau dinikahkan dengan putri Kyai Imam As’ari yang bernama Siti Safurotun pada tahun 1950 M tersebut. Waktu itu beliau masih berumur 24 tahun. Kemudian tahun 1953 beliau dikaruniai putra yang kemudian diberi nama Mohammad Sholeh. Selain itu, beliau juga mendalami ilmu thoriqoh ke ayahnya sendiri yaitu Kyai Kalam di Juwet, Porong, Sidoarjo.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan

2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
KH. Mohammad Bahruddin belajar ilmu thoriqoh di pondok Kyai Imam As’ari Ngoro, Mojosari, Mojokerto selama ± 20 hari. Pada waktu putranya, Kyai Sholeh masih berumur satu tahun, Kyai Bahruddin mondok di Pondok Al-Mukarom Kyai Munawir Tegalarum, Kertosono, Nganjuk, perlu untuk menuntuy ilmu thoriqoh dan sebagainya. Pertama, beliau ngaos 40 hari, setelah selesai beliau mohon pamit untuk pulang, karena sudah sangat rindu kepada istrinya, tetapi kyai Munawir tidak memperkenankannya, walaupun hanya dua hari, justru kyai Munawir menganjurkan agar beliau munggah ngaos lagi 60 hari, seketika itu hati beliau terasa poyang-payingan sekali, ibaratnya kok seumpama dicancangi cagak pasti lepas, berhubung dicancang ilmu akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa, kemudian hati beliau ingat kalau istiqomah perkataannya guru itu wajib yaitu fardlu ‘ain.

Beliau belajar thoriqoh di Pondoknya Almukarom Kyai Munawir Tegalarum- Nganjuk, selama ½ tahun dengan cara nerus yaitu naik-turun-naik-turun (istilah di Thoriqoh), sampai selesai. Kemudian beliau mendapatkan ijazah mursyid tepatnya pada tahun 1955. Setelah itu, beliau diperintahkan untuk pulang ke orang tua Juwet, Porong dan orang tua Ngoro, Mojosari, Mojokerto.

2.2 Guru-Guru Beliau

  1. Kyai Kalam
  2. Kyai Imam Asy’ari Ngoro, Mojokerto
  3. Kyai Munawir, Tegal Arum, Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur

2.3 Mendirikan Pondok Pesantren
Setelah Kyai Bahruddin menempuh pendidikan keagamaan di beberapa pondok pesantren, maka pada suatu hari tepatnya pada tahun 1955 beliau ditugaskan oleh guru sekaligus mertuanya yaitu Kyai Asy'ari untuk mencari tempat yang cocok buat menerapkan ilmu-ilmu agama yang telah didapatnya.

Beliau disuruh berjalan ke arah timur dari daerah Ngoro. Dalam t

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+