Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Istad Djanawi, Muassis Pesantren Miftahul Qulub Mojokerto
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Istad Djanawi, Muassis Pesantren Miftahul Qulub Mojokerto

1879 – 1959 M · 4.172 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Istad Djanawi lahir di desa Mbothe yang sekarang menjadi desa Kalianyar Kertosono, diperkirakan pada tahun 1879 M.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Wafat
1.3  Riwayat Keluarga

2.   Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
2.3 Mendirikan Pondok

3.   Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.   Referensi

1.  Riwayat Hidup dan Keluarga 
1.1 Lahir

KH. Istad Djanawi lahir di Desa Mbothe yang sekarang menjadi Desa Kalianyar Kertosono, diperkirakan pada tahun 1879 M.

1.2 Wafat
KH. Istad Djanawi wafat pada hari Kamis malam Jum’at Kliwon setelah shalat Isya’ tanggal 5 November 1959 M atau tanggal 5 Jumadil Awal tahun 1379 H, dengan disaksikan oleh istri dan putra-putrinya di kediamannya beliau menghembuskan nafas terakhirnya tepat pada usia 80 tahun, karena sakit.

Banyak penta’ziah yang bersedih atas wafatnya KH. Istad Djanawi, mereka hadir di kediamannya hingga ke pemakaman Kyai Istad. Banyak halangan yang harus dihadapai ketika para muridnya ingin mengabarkan kabar duka tersebut ke warga masyarakat maupun tokoh-tokoh agama yang merupakan sahabat KH. Istad Djanawi.

Jenazah beliau dimakamkan pada pagi harinya jam 10.00 WIB, di Pemakaman Keluarga di sekitar kediaman beliau, tepatnya di belakang masjid. Pemakaman tersebut dihadiri oleh Kyai-kyai sahabat KH. Istad Djanawi yang mengasuh beberapa pondok pesantren.

1.3 Riwayat Keluarga
Beliau menikahi wanita sholehah bernama Fatimah Jayun Yaumi dan dikaruniai dikaruniai 12 anak di antaranya: Haidlo Ali, Sulaiman Afandi, Khoirul Anam, Ridyadlul Badi'ah, Muhajir, Zaenab, Mubayanah, Musyarrofah, Baidlowi, Ahmad Syamsudin, Isroil, Nur Roihanah.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu

Menginjak usia remaja KH. Istad Djanawi berkeinginan mempelajari lebih banyak mengenai ilmu agama yang selama ini beliau pelajari melalui tokoh-tokoh agama yang ada di Desa, sehingga beliau juga ingin mencari pengalaman baru dengan belajar ilmu agama di tempat lain seperti di Pondok Pesantren Mojosari asuhan Kyai Imron dan pesantren yang lainnya.

Selanjutnya beliau melakukan pengembaraan ilmu ke Pondok Pesantren asuhan Kyai Imam Bahri di Desa Mangunsari, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk dan diteruskan ke Bangkalan Madura yakni kepada Syaikhona Kholil yang mendirikan pondok pesantren di Desa Kademangan sekitar 200 meter dari alun-alun Kota Bangkalan. Di pesantren ini Kyai Kholil banyak mendapat santri yang tidak hanya berasal dari pulau Madura tetapi juga mencakup pulau Jawa. Setelah menimba ilmu di sana KH. Istad Djanawi tak lantas pulang, namun melanjutkan perjalanan untuk mencari guru spiritual untuk membimbing kecintaannya terhadap tasawuf dan memperdalam ilmu agama.

Kecintaannya pada tasawuf memang telah terlihat sejak mondok di Pesantren Mangunsari, beliau memiliki kebiasaan puasa ataupun menjalankan amalan dari gurunya, beliau pernah melakukan riyadloh hanya dengan makan buah mengkudu kurang lebih selama 3 tahun di makam Sayyid Sulaiman Betek Mojoagung, yang semua itu dilakukan hanya semata-mata untuk membersihkan jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Di tengah-tengah riyadlohnya tidak jarang beliau merasa majdzbub, yakni masuk ke dalam alam bawah sadar karena terpesona dengan sifat ’adzomah Allah. Dalam keadaan demikian beliau mendapatkan petunjuk dalam menentukan arah perjalanan kehidupan

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+