KH. Muhammad Amnan lahir di Trenggalek dan dibesarkan dari kalangan keluarga yang agamis. Sejak kecil ia diasuh dan dididik agama langsung oleh kakeknya yang merupakan seorang ulama. Di usianya yang baru tujuh tahun, Kiai Amnan diajak ibunya pindah ke Pacitan dan di sana ia belajar di Pondok Pesantren Termas asuhan KH. Dimyati.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
1.3 Riwayat Keluarga
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru Beliau
2.3 Mendirikan Pondok Pesantren
3. Penerus Beliau
3.1 Anak-anak Beliau
4. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1 Karier Beliau
4.2 Karya-karya Beliau
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Muhammad Amnan lahir di Trenggalek dan dibesarkan dari kalangan keluarga yang agamis. Sejak kecil ia diasuh dan dididik agama langsung oleh kakeknya yang merupakan seorang ulama. Di usianya yang baru tujuh tahun, Kiai Amnan diajak ibunya pindah ke Pacitan dan di sana ia belajar di Pondok Pesantren Termas asuhan KH. Dimyati.
1.2 Wafat
KH. Muhammad Amnan wafat pada tahun 1948 M di Pesulukan Talok. Sebelum wafat, ia mengangkat putranya, KH. Askirom Amnan untuk menjadi penerusnya, kemudian dilanjutkan oleh Agus Mustajib Ahmad hingga saat ini.
1.3 Riwayat Keluarga
Sebelum melakukan perjalanan tersebut, Kyai Amnan menikah dengan Ning Siti Muti’ah putri dari KH. Imam Mustofa Kertosono, Nganjuk pada tahun 1908 M. Pada tahun 1911 M, beliau memboyong Nyai Muti’ah bersama ibunya Nyai Masinah untuk tinggal dan menetap di Ngawi di tanah peninggalan ayahnya.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
Sekitar usia empat belas tahun, Kyai Amnan kembali ke Trenggalek bersama ibunya dan melanjutkan belajar di sana dan di beberapa kiai. Pada usia tujuh belas tahun Kiai Amnan mulai menimba ilmu di Pondok Pesantren KH. Khasan Minhaj Kebonsari Trenggalek. Dari KH. Khasan Minhaj inilah beliau belajar beberapa ilmu pengetahuan seperti ilmu kanuragan, ilmu syariat dan thariqah, termasuk Thariqah Naqsabandiyah Khalidiyah yang kemudian ia ajarkan di Ngawi dan sekitarnya.
Selain memperdalam ilmu agama, di pondok tersebut Kiai Amnan juga diberi pemahanan terkait jalur nasab keluarga ayahnya yang masih terlahir dari keturanan seorang kyai masyhur sehingga banyak keturunanya yang menjadi kiai besar di Indonesia. Kyai Amnan menjadi santri KH. Khasan Minhaj selama kurang lebih tujuh tahun hingga usia beliau sekitar dua puluh empat tahun. Selama itu beliau terus menimba ilmu dan ngasor kepada KH. Khasan Minhaj hingga ia dibaiat menjadi seorang mursyid.
Tidak hanya di dua pesantren tersebut, Kyai Amnan juga belajar dibeberapa guru yang membekalinya berbagai ilmu pengetahuan seperti kepada Kyai Imam Mustofa Kertosono Nganjuk (w. 1938 M) di Pondok Pesantren Tegal Arum, juga menjadi santri khilatan atau nyantri secara tabarukan kepada banyak ulama seperti Syeikh Kholil di Bangkalan Madura, Syaikh Mudowali Labuan Haji Aceh, KH. Imam Mustofa Kertosono Nganjuk, KH. Muhammad Amman dan lain-lain.
Selain itu Kyai Amnan tidak hanya belajar kepada kyai-kyai lokal atau nusantara, tetapi juga pernah nyantri di Arab Saudi tepatnya di Jabal Qubais, Mekkah. Di sana ia belajar thariqah kepada para ulama Thariqah Naqsyabandiyah Khalidiyah di antaranya Syekh Muhammad Asrif Bin Abdurahman al khalidy, Syekh Abdullah Syatari al khalidy, dan Syekh Muhammad Ali Ri
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

