KH. Moch. Djamhari Ghozali Anwar merupakan ulama thariqah sekaligus Muassis Pondok Pesantren An-Nur, Trisono, Babadan, Ponorogo, Jawa Timur. Ia lahir dari pasangan suami istri Muhammad Darman dan Nyai Satinem dari Desa Banaran, Delopo, Madiun.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
1.3 Riwayat Keluarga
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru Beliau
2.3 Mendirikan Pondok Pesantren
3. Penerus Beliau
3.1 Anak-anak Beliau
4. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1 Karier Beliau
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Moch. Djamhari Ghozali Anwar merupakan ulama thariqah sekaligus Muassis Pondok Pesantren An-Nur, Trisono, Babadan, Ponorogo, Jawa Timur. Beliau lahir dari pasangan suami istri Muhammad Darman dan Nyai Satinem dari Desa Banaran, Delopo, Madiun.
1.2 Wafat
KH. Moch. Djamhari Ghozali Anwar wafat pada tahun 1999, Kiai Djamhari dikebumikan di area Pondok Pesantren An-Nur sebagaimana wasiatnya yang ingin dimakamkan di lokasi tempat beliau berjuang.
1.3 Riwayat Keluarga
Setelah Kiai beranjak dewasa, beliau menikah dengan seorang perempuan yang berasal dari Baleboto, Madiun dan tinggal di sana. Bersamanya, Kiai dikaruniai empat orang puteri. Kemudian Kiai menikah lagi dengan istri kedua yang berasal dari Babadan, Ponorogo dan hijrah ke sana. Istrinya tersebut bernama Nyai Ismi Munawwarah.
Dari istri yang kedua ini, Kiai dikaruniai dua orang putra dan putri. Sayangnya, sebelum dewasa keduanya meninggal. Akhirnya, Kiai mengangkat tiga keponakan dari istrinya untuk dijadikan anak, mereka adalah Ning Harin Darmasastuti, Gus Arba’ dan Ning Nuraini. Bersama istrinya yang kedua ini lah Kiai mendirikan Pondok Pesantren An-Nur.
Setelah itu, Kiai menikah lagi dengan seorang perempuan dari Sareng, Madiun dan dikaruniai seorang putra yang bernama Gus Zamzuli. Kemudian menikah lagi dengan seorang perempuan dari Tulungagung dan dikaruniai dua orang putra, yaitu Gus Andri dan Gus Maksum Singgih Kusumo Yudo.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
Sewaktu kecil, Kiai Djamhari hanya berguru kepada ulama-ulama kampung. Barulah setelah itu ia melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Tebu Ireng di bawah asuhan KH. Hasyim Asyari. Belum seberapa lama Kiai belajar bersama Hadratussyekh, ia sudah diperintahkan oleh sang guru untuk melanjutkan pencarian ilmunya ke arah barat. Ini dikarenakan Kiai Hasyim sudah melihat potensi lain dalam diri Kiai Djamhari.
Kemudian Kiai mengikuti perintah gurunya untuk terus berjalan ke arah Barat sampai ia bertemu Syekh Imam Bakri, Syekh Tholhah dan Syekh Imam Rifai. Menurut keterangan KH. Muhammad Fuaidil Khalik Alhamdani, selaku pengasuh Pondok Pesantren An-Nur, mereka bertemu di wilayah Cirebon dan Banten. Dari ulama-ulama tersebut, Kiai mendapatkan ijazah satu, dua dan tiga. Ijazah dua dan tiga ia dapat dari Syekh Imam Bakri dan ijazah satu ia dapatkan dari Syekh Imam Rifai. Ijazah ini pula yang nantinya akan diajarkan kepada para muridnya yang diberi nama Asmaul Haq
2.2 Guru-Guru Beliau
- KH. Hasyim Asyari
- Syekh Imam Bakri
- Syekh Tholhah
- Syekh Imam Rifai
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

