KH. Arif Hasan, Pendiri Pesantren Roudlatun Nasyiin Mojokerto
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
1.3 Riwayat Keluarga
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru
4. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1 Mendirikan Pondok Pesantren
4.2 Karier
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Arif Hasan lahir pada 20 Rabiul Awal 1337 H/1917 M di Desa Berat Kulo, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto, beliau lahir dari pasangan Kyai Hasan dan Bu Nyai Sholihah. Kyai Hasan sendiri adalah Kyai Kampung yang alim, yang menjadi tempat menuntut ilmu dan bertanya tentang ragam persoalan kehidupan warga Berat Kulon dan sekitarnya.
1.2 Wafat
Pasca berangkat haji, kesehatan KH. Arif Hasan menurun pada tanggal 31 Oktober 1988, KH. Arif Hasan dilarikan ke Rumah Sakit Budi Mulia Surabaya atas derita diabetes akut yang menderanya. Belum sempat ditangani, KH. Arif Hasan telah berpulang ke Rahmatullah.
1.3 Riwayat Keluarga
Pada tahun 1942 beliau menikah dengan Ny. Hj. Thowilah, dari pernikahan mereka dikaruniai beberapa anak.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
Pada usia 16 tahun, tepatnya pada tahun 1933, KH. Arif Hasan dipondokkan ke Pesantren Tebuireng. Beliau diantar oleh ayahnya sendiri beserta keluarga dan sahabat karibnya. Pada saat ayah beliau menghadap kepada Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari, KH. Arif Hasan muda penasaran dengan keadaan pondok, beliau berjalan jalan melihat sekitar pondok pesantren. Bersamaan dengan itu, pihak keamanan pondok sedang mencari seorang anak pondok yang bernama Arif yang telah melakukan pelanggaran. Anak keamanan akan mengeksekusi santri yang bernama Arif tersebut.
Sayangnya beliau tidak tahu persis rupa si Arif mendapati KH. Arif Hasan kecil yang sedang berjalan jalan dan ketika ditanyai menjawab Arif adalah namanya, maka anak keamanan itu segera membawa KH. Arif Hasan ke sidang keamanan dan memberikan hukuman kepada beliau dengan memasukkannya ke dalam kamar mandi. Namun betapa terkejutnya pihak keamanan, ketika mereka salah tangkap. Maka gemparlah Pesantren Tebuireng kala itu.
Mendapati peristiwa itu, Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari mengambil kebijakan untuk menempatkan KH. Arif Hasan di sebuah Gotakan bersama santri yang alim dan dituakan yakni Kyai Salim Kertosono. Di bawah pengawasan Kyai Salim ini, KH. Arif Hasan dengan tenang mempelajari ilmu-ilmu pesantren. Beliau hafalkan nadzam nadzam kitab gramatikal arab seperti imrithi, amtsilah At-Tasrifiyah, Al-Fiyah Ibnu Malik dan lain-lain. KH. Arif Hasan juga menghafalkan Al-Qur'an. Dan karena kecerdasannya, beliau mampu khatam menghafalkan dalam waktu enam bulan.
Selain mengaji, KH. Arif Hasan juga turut membantu keperluan keluarga besar Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari. Selepas melaksanakan shalat malam, Arif menuju rumah Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari untuk mencuci piring kotor, menimba air mengisi bak mandi yang dipergunakan Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari dan lain lain. KH. Arif Hasan juga kerap dipanggil untuk mijitin tubuh Hadrat
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

