Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Sulaeman, Muasis Pesantren Assalafiyyah Batujajar, Kab. Bandung Barat
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Sulaeman, Muasis Pesantren Assalafiyyah Batujajar, Kab. Bandung Barat

wafat 1971 M · 3.450 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Biografi KH. Sulaeman, Pesantren Assalafiyyah Batujajar,, Kab. Bandung Barat

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Wafat
1.3  Riwayat Keluarga

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Mengembara Menuntut Ilmu
2.2  Guru-guru

3.    Penerus
3.1  Anak-anak

4.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1  Mengasuh Pesantren
4.2  Karier Beliau

5.  Referensi

 

1.  Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Sulaeman lahir di Batujajar Kabupaten Bandung Barat ,Jawa Barat pada tahun 1830. Ayahnya adalah H. Syarif berasal dari Pandeglang Banten. H. Syarif masih keturunan Syaih Maulana Yusuf Ibunya adalah Hj. Siti Mulya .putra seorang petinggi kabupaten Bandung..

1.2 Wafat
Intensitas kegiatan pengajian menurun, setelah beliau sering sakit, harus pergi ke dokter atau harus dirawat di rumah sakit. Tapi sekalipun demikian , beliau menitipkan pengajiannya kepada santri-santrinya yang sudah senior. Pada tanggal 27 September 1971, KH. Sulaiman berpulang dipanggil Yang Maha Kuasa.

1.3 Riwayat Keluarga
KH. Sulaeman menikah dengan Hj. Siti Khodijah, ketika beliau ikut pasaran tafsir di Ajengan (Mama Aon) Mangunreja Tasikmalaya.
Hj. Siti Khodijah adalah putra Rd. Sumadipraja berasal dari Sumedang masih keturunan Geusan Ulun. Ibunya Hj. Siti Khodijah adalah Hj. Fatimah berasal dari Tasikmalaya keturunan Sukapura. KH. Sulaeman menghabiskan masa kecilnya di Batujajar. Karena anak tunggal , kasih sayang ayah dan ibunya tertumpu kepadanya.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
Pada usia enam tahun, beliau jadi murid sekolah dasar HIS , dan di sana mulai belajar bahasa Belanda. Ayahnya seorang saudagar, punya toko terletak di pinggir jalan besar. Di dekat tokonya ada Mesjid Besar. Tokonya menjadi tempat peristirahatan bagi mereka yang bepergian jauh . Selain untuk kepentingan dengan kebutuhan isi perut juga bagi mereka yang hendak melaksanakan shalat.

Pada masa remaja, KH. Sulaeman pernah mengidap penyakit yang sulit untuk disembuhkan. Penyakitnya itu sempat menjadi perhatian bahkan dijadikan observasi oleh para dokter Belanda.

Ayah dan ibunya sempat kebingungan dengan penyakit yang diderita oleh anaknya itu. Ayahnya bernadzar, :”Jika anak saya sembuh dari penyakitnya, dia akan di kepesantrenkan.” Alhamdulillan penyakitnya itu sembuh.

Para dokter bahagia akan keberhasilannya. Mereka mengucapkan terima kasih kepadanya KH. Sulaeman dan ayah ibunya. Orang tuanya sujud syukur atas kesembuhan penyakit anaknya itu.

Sejak kesembuhannya dari penyakit tersebut, beliau pergi mencari ilmu di pesantren. Beliau menggali ilmu dari beberapa pesantren, yakni pesantren Ciburial (Padalarang), Cibabat, Cibaduyut, Cikalama, Keresek, Lekor, Mangunreja, Balakasap, dan pesantren Pangkalan.

KH.Sulaiman, sosok manusia yang haus akan ilmu, terbukti pada tahun 1913, beliau pergi ibadah haji dan bermaksud akan bermukim di Mekkah. Namun, pemerintahan Arab Saudi tidak memberi izin, bahkan yang sudah lama bermukim juga disuruh pulang ke negara masing-masing.

Sekalipun dia sudah menikah dengan Hj. Siti Khodijah, tapi masih tetap menjadi santri di pesantren Dukuh (Tarogong, Garut). Istri dan anaknya tinggal di kobong sebagaimana santri la

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+