KH. Abi Sudjak adalah ulama besar dari Sumenep Madura, beliau adalah pendiri NU Sumenep dan pengasu pesantren Asta Tinggi.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
1.3 Riwayat Keluarga
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru
3. Penerus
3.1 Anak-anak
3.2 Murid-murid
4. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1 Mengasuh Pesantren
4.2 Karier Beliau
4.3 Karya Beliau
5. Mendirikan NU di Sumenep
6.Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
Syekh al-'Alawiyah KH. Abi Sudjak lahir pada tahun 1885. Beliau putra dari pasangan KH. Djamaluddin dan Nyai Hj Siti Shalehah. Ayahnya putra dari KH. Moh Maghfur bin KH Muhammad Aqib (Kyai Anjuk) bin Syekh Abd Manan (Bhuju' Kosambi). Secara nasab, Kyai Anjuk merupakan keturunan kelima dari Kiai Abdul Allam, Prajjan, Camplong, Sampang yang garis silsilahnya sampai ke Sunan Giri (Generasi ke-4).
Ibu Kyai Abi Sudjak putri dari KH. Thalabuddin atau kakak kandung dari KH. Zainal Arifin Tarate Sumenep yang silsilahnya bersambung dengan Sayyid Abdul Karim (Bhuju' Bhalang) bin Syits bin Abdul Alim bin Kunita bin Zainal Abidin (Sunan Cendana Kwanyar, Bangkalan).
1.2 Wafat
Pada tahun 1948, KH. Abi Sudjak berpulang ke Rahmatullahi pada usia 63 tahun. Jenazah almarhum dikebumikan di kompleks pemakaman Asta Tinggi, tepatnya di Pesantren Asta Tinggi Kebonagung, Sumenep, Madura.
1.3 Riwayat Keluarga
KH. Abi Sudjak menikah dengan Nyai Hj. Siti Fatimah binti Kyai Zainal Arifin. Dari pernikahan ini dikaruniai putra-putri, yaitu KH. Moh Munir, Nyai Hj. Makki (istri mendiang KH Usymuni bin Kiai Zainal Arifin bin Kiai Thalabuddin), Nyai Hj. Mas'udah, Nyai Hj. Rukhaniyah, Nyai Hj. Tal'atit Badriyah, Nyai Hj. Muti'atur Rahbiniyah, Nyai Halisyah (Ny Enca).
Setelah Nyai Fatimah wafat (istri pertama), KH. Abi Sudjak menikah kembali dengan santrinya asal Pandian yang bernama Nyai Hj. Zainah, putri dari Nyai Syarifah binti Kiai Mansyur bin Kiai Laisudin (Laok Sok-sok Kebonagung). Dari perkawinannya dikaruniai keturunan, Ny Hj. Mashudatun, KH. Baqir, KH. Ziddiq.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
KH. Abi Sudjak sejak kecil dihabiskan mengenyam ilmu agama pada ayah beliau di pesantren Asta Tinggi. Sejak kecil gemar mengikuti pengajian ke berbagai tempat, salah satunya di pesantren Loteng Kota, Sumenep yang kala itu diampu oleh raja.
Kemudian, beliau melanjutkan ke Pesantren Karay Ganding, Sumenep, yang saat itu diasuh oleh Kyai Imam. Diketahui, kecerdasan KH. Abi Sudjakmengalahkan santri lainnya. Hingga pada akhirnya sang guru menulis nama KH. Abi Sudjak di dinding pesantren menggunakan bekas singkong bakar yang hangus terbakar. Tulisannya adalah ‘Abi Sudjak Wali.’
Tanda-tanda kewalian KH. Abi Sudjak yang tampak di pesantren itu membuat sang guru memondokkan ke Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan. Saking tawadhu dan takzimnya pada guru, KH. Abi Sudjak rela menemani Syaikhona Kholil ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji tanpa bekal apa pun. Di sanalah beliau menyiapkan segala
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

