Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · Syekh Akbar Abdul Fattah, Mursyid Tarekat Idrisiyah Tasikmalaya
✓ Terverifikasi Tim Riset

Syekh Akbar Abdul Fattah, Mursyid Tarekat Idrisiyah Tasikmalaya

1884 – 1947 M · 6.560 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Syekh Akbar Abdul Fatah adalah salah satu ulama terkenal di Tasikmalaya yang diyakini memiliki segudang karomah. Beliau dilahirkan pada 1884 di Desa Cidahu Tasikmalaya. surah Al-Kahfi

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Wafat
1.3  Riwayat Keluarga

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Mengembara Menuntut Ilmu
2.2  Guru-Guru

3.    Penerus
3.1  Anak-anak
3.2  Murid

4.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1  Mendirikan Pesantren
4.2  Karier
4.3  Karomah

5.   Referensi

 

1.  Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1 Lahir
Syekh Akbar Abdul Fatah adalah salah satu ulama terkenal di Tasikmalaya yang diyakini memiliki segudang karomah. Beliau dilahirkan pada 1884 di Desa Cidahu Tasikmalaya.

1.2 Wafat
Syekh Akbar Abdul Fatah wafat pada 1947 dalam usia 63 tahun, dimakamkan dalam kompleks Pesantren Al-Fathiyah al-Idrisiyah, Jalan Raya Ciawi Km 8, Kampung Pagendingan, Kecamatan Cisanyong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

1.3 Riwayat Keluarga
Syekh Akbar Abdul Fattah menikah dengan seorang wanita sholehah dan diakruniai beberapa anak.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu

Sejak belia Abdul Fatah sudah tertarik pada kehidupan rohaniah dengan menimba ilmu tarekat pada KH. Sudjai, guru mursyid Tarekat Tijaniyah, selama tujuh tahun sejak 1903. Selama menjadi santri, Abdul Fatah terkenal dengan sebutan “Si Linggis”, karena analisisnya terhadap berbagai ilmu agama yang sangat tajam.

Terutama ketika dia mampu menganalisis dengan menggunakan ilmu nahu dan saraf dengan pendekatan tasawuf. Dia suka belajar dengan membaca berbagai kitab, sehingga beberapa pelajaran yang belum sempat disampaikan oleh gurunya sudah dikuasai. Suatu hari, Abdul Fatah membaca ayat 17 surah Al-Kahfi, “Barang siapa diberi hidayah oleh Allah, dia termasuk orang yang diberi petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah, dia sekali-sekali tidak akan mendapatkan seorang wali yang mursyid,".

Lalu dia bertanya kepada Syekh Sudjai Al-Kudani, “Siapakah wali mursyid yang dimaksud dalam ayat ini?” Kiai Sudjai menjelaskan perihal wali mursyid sebagai guru tarekat, sementara mencari wali mursyid merupakan keharusan. Tapi, karena Kiai Sudjai mengaku bukan wali mursyid, Abdul Fatah disarankan untuk mencari wali mursyidnya. Lalu berangkatlah Abdul Fatah mencari wali mursyid dengan mengunjungi para ulama di Jawa dan Sumatera. Karena belum menemukan, dia lalu mencarinya ke Timur Tengah, khususnya Mekkah.

Maka pada 1922 dia pun berangkatlah, dengan membawa seluruh anggota keluarganya. Sampai di Singapura, kapal yang mereka tumpangi rusak. Terpaksalah dia bermukim di Singapura itu. Abdul Fatah tinggal di Kampung Watu Lima, kemudian di Kampung Gelang Serai, selama lima tahun. Di sanalah beliau, bertemu Syekh Abdul Alim Ash-Shiddiqy dan Syekh Abdullah Dagistani, yang mengajarkan Tarekat Sanusiyah.

Pada 1928, setelah memulangkan keluarganya ke Tasikmalaya, dia berangkat ke Mekkah bersama beberapa jamaah haji Indonesia, seperti KH. Toha dari Pesantren Cintawana, Tasikmalaya, dan KH. Sanusi dari Pesantren Syamsul Ulum, Gunungpuyuh, Sukabumi. Selama di tanah suci, Syekh Abdul Fatah bergabung dengan Zawiyah Sanusiyyah di Jabal

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+