Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Mohammad Halimi (Mama Halimi), Pengasuh Pesantren Turus Pandeglang
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Mohammad Halimi (Mama Halimi), Pengasuh Pesantren Turus Pandeglang

1924 – 1994 M · 5.710 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Biografi KH. Mohammad Halimi (Mama Halimi) Pandeglang

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Wafat
1.3  Riwayat Keluarga

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Mengembara Menuntut Ilmu
2.2  Guru-Guru

3.    Penerus
3.1  Anak-anak

4.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1  Mengasuh Pesantren
4.2  Karier

5.   Referensi

1.  Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir

KH. Mohammad Halimi atau lebih dikenal dengan sebutan Mama Halimi lahir di Kampung Pasar Nangka, Desa Kupahandap, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang, Banten pada tahun 1924. Mama Halimi adalah putra ketiga dari empat bersaudara dari pasangan H. Muhammad Salim dan Nyai Hj. Ratu Hafsah, yang memiliki tiga orang putra dan satu orang putri, yaitu KH. Ruyani, KH. Suhaemi, KH. Muhammad Halimi dan Nyai Mudrikah.

1.2 Wafat
Beliau wafat pada hari Rabu malam Kamis jam 22.00 pada tanggal 1 Rabiul Akhir 1415 H atau 7 September 1994 M pada usia 70 tahun. Beliau dimakamkan di Pekuburan Ciherang Pandeglang.

1.3 Riwayat Keluarga
Beliau menikah dengan Nyai Siti Zahroh binti KH. Muhammad Yahya Ciherang Pandeglang yang dikaruniai lima orang putra dan satu orang putri dan masing-masing yang diberi nama, H. Ahmad Azizi, H. Ahmad Auza'i, H. Ahmad Tibrizi, Siti Mumun Mu'izzah, Ahmad Udin Tantowi, Ahmad Lili Jamalail.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu

Pendidikan beliau dalam hal keagaman pertama kali, dididik oleh ibu dan bapaknya tentang membaca Al-Qur'an dan pengetahuan dasar tentang ilmu-ilmu keislaman seperti fiqih, tafsir, tauhid dan lain-lain. Setelah menginjak usia remaja, beliau dimasukkan oleh pamannya ke suatu pesantren yang mengajarkan ilmu-ilmu agama sampai usia 15 tahun.

Setelah mempelajari ilmu-ilmu agama di pesantren tersebut, kemudian beliau dibawa oleh pamannya ke Kampung Jengji, di kampung inilah beliau memperdalam ilmu agama sampai dewasa. Di samping belajar kepada para kyai di kampung tersebut, beliau juga belajar kepada pamannya. Tidak lama kemudian beliau dipindahkan ke Kampung Karang Kanjung kepada guru pamannya itu selama 3 tahun. Beliau belajar di kampung ini dengan penuh kesungguhan dan keuletan.

Salah satu ilmu yang dipelajari adalah Hadis. Beliau masih ingat salah satu hadis yang berbunyi manjada wa jada yang artiya barang siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan berhasil. Nampaknya hadis ini sangat berkesan di hati beliau, sehingga beliau belajar dengan bersungguh-sunggu.Selama perjalanan beliau belajar menimba ilmu agama itu banyak hambtan-hambatan kata gurunya.

Diceritakan sewaktu beliau menghafal salah satu kitab yaitu kitab Alfiah, beliau terkena gigitan ular tanah tetapi beliau dengan sabar dan tabah tetap melanjutkan belajar kitab tersebut dan alhamdulillah beliau berhasil menghafal kitab tersebut dan beliau juga tetap dalam keadaan sehat wal afiat. Selama beliau belajar ilmu di Pesantren Karang Tanjung yang dipimpin oleh Kyai Ahmad Salim bin Kyai Amin beliau selalu mendapatkan ranking dari yang baik dibandingkan dengan teman sejawatnya selama di pesantren tersebut.

Karenanya, beliau sangat disayangi oleh kyainya. Dalam hal menghafal suatu hafal

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+