Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Muhammad Akyas Abdul Jamil (Ki Akyas), Pengasuh Pesantren Buntet
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Muhammad Akyas Abdul Jamil (Ki Akyas), Pengasuh Pesantren Buntet

1893 – 1978 M · 3.360 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Muhammad Akyas Buntet beliau adalah putera sesepuh Pesantren Buntet, KH. Abdul Jamil, itu lahir pada tahun 1893. Sejak kecil, dirinya dididik dengan ajaran Islam. Ayahnya mengajarkan dasar-dasar agama, termasuk kemampuan membaca Alquran.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Riwayat Keluarga

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Mengembara Menuntut Ilmu
2.2  Guru-Guru

3.    Penerus
3.1  Anak-anak
3.2  Murid-murid

4.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1  Mengasuh Pesantren
4.2   Muqaddam Tarekat Tijani
4.3  Karier
4.4  Karomah KH. Muhammad Akyas Buntet
5.   Referensi

1.  Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir

KH. Muhammad Akyas Buntet beliau adalah putra sesepuh Pesantren Buntet, KH. Abdul Jamil, lahir pada tahun 1893. Sejak kecil, dirinya dididik dengan ajaran Islam. Ayahnya mengajarkan dasar-dasar agama, termasuk kemampuan membaca Al-Qur'an.

1.2 Riwayat Keluarga
KH. Muhammad Akyas Abdul Jamil memiliki satu anak dari istri pertama, Nyai Tike, dan 9 anak dari istri kedua yang menemaninya hingga wafat di Buntet Pesantren. Istri beliau yang kedua ini bernama Nyai Masriah putri seorang "Penghulu Landrat" atau Kepala KUA pada masa Belanda.

1.3 Wafat
KH. Muhammad Akyas Abdul Jamil, wafat pada tahun 1978.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu

KH. Muhammad Akyas Abdul Jamil saat masih remaja diperintahkan untuk memperdalam ilmu agama di Pondok Pesantren lain. Namun berbeda dengan para santri umumnya, KH. Muhammad Akyas Abdul Jamil saat datang mondok pertama kali sudah hafal Al-Fiyah. Karenanya, beliau hanya butuh waktu 18 bulan saja mondok di Jombang dan berguru langsung kepada Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari.

Dari situ, beliau berpindah ke Tambak Resi, Weleri untuk berguru kepada KH. Abdullah. Tidak lama kemudian Ki Akyas pindah lagi mondoknya di KH. Abdul Malik di Pesantren Jami Soren di Solo. Namun di pesantren ini, justru KH. Muhammad Akyas Abdul Jamil bukannya belajar malah disuruh mengajar Al-Fiyah di Madrasah Mambaul Ulum. Di pesantren ini hanya memakan waktu setengah tahun saja.

Awalnya, guru madrasah bertanya, kepada para santri-sanrinya kalau-kalau ada yang hafal Al-Fiyah. Saat itu KH. Muhammad Akyas Abdul Jamil masih remaja dan saat ia mengaku hafal Al-Fiyah, dianggap gurauan. Sebab para guru di sana masih belum percaya kalau KH. Muhammad Akyas Abdul Jamil remaja ini hafal Al-Fiyah. Tapi akhirnya setelah dites kemampuannya, semuanya mempercayai daya hafal santri cilik ini.

Rupanya,  KH. Muhammad Akyas Abdul Jamil menuntut ilmu di pesantren lain tidak memakan waktu lama karena ilmu yang dipelajari di pesantren lain itu sudah diajarkan di Buntet Pesantren seperti Al-Fiyah salah satu ilmu alat (linguistik) untuk membaca kitab-kitab ulama mutaqoddimin. Namun karena menuntut ilmu di pondok pesantren bagi keluarga kyai merupakan semacam prasyarat untuk bisa memimpin pesantren. Maka menunutut ilmu di banyak guru lain di pesantrenlain merupakan tindakan "tabarrukan" atau mencari kebaikan dari kyai-kyai di pesantren lain.

2.2 Guru-Guru:

  1. KH. Abdul Jamil

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+