KH. Abubakar Bastari, Akrab disapa dengan panggilan “Buya” oleh istri dan anak cucunya serta oleh masyarakat sekitar 30 Ilir Palembang. Ia dilahirkan oleh ibunya di pinggiran Sungai Komering, pedalaman Martapura di Desa Kota Negara, Ogan Komering Ulu (OKU) Sumatera Selatan pada Subuh Jum’at. 1 Rajab 1315 H atau 1898 M dengan nama lengkap Abubakar Bastari bin Haji Ismail.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru
4. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1 Mendirikan Lembaga Pendidikan
4.2 Karier
4.3 Karya
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Abubakar Bastari, yang akrab disapa dengan panggilan “Buya” oleh istri dan anak cucunya serta oleh masyarakat sekitar 30 Ilir Palembang. Beliau lahir di pinggiran Sungai Komering, pedalaman Martapura di Desa Kota Negara, Ogan Komering Ulu (OKU) Sumatera Selatan pada Subuh hari Jumat 1 Rajab 1315 H atau 1898 M dengan nama lengkap Abubakar Bastari bin Haji Ismail.
Orang tuanya hidup sederhana akan tetapi dalam masalah pendidikan agama mereka sangat peduli, oleh karena itu Abubakar Bastari pada masa kecilnya mendapat pendidikan agama langsung dari ayahnya, Haji Ismail. Ayahnyalah yang mengenalkan cara membaca Al-Qur’an dengan baik sesuai ilmu tajwidnya, beliau juga tentunya menanamkan Aqidah Islamiyyah yang berdasarkan “Al-’Itiqad Ahlussunnah Wal Jama’ah"
1.2 Riwayat Keluarga
Semasa hidupnya KH. Abubakar Bastari memiliki sebanyak 4 Istri di mana istri pertama bernama Hj. Siti Amunah asal Kota Kayu Agung, istri kedua bernama Hj. Siti Ronimah asal Kota Sungai Pinang, ketiga bernama Hj. Siti Aminah asal Kota Palembang, dan yang keempat Hj. Siti Niswah berasal dari Desa Beti Ogan Ilir.
Istri yang pertama dan ketiga meninggal dunia saat melahirkan, istri yang kedua berpisah, maka yang menemani Buya sampai akhir hayatnya adalah istri yang keempat yaitu Hj. Siti Niswah Binti Muhammad Husin yang wafat pada 12 Februari 2000 M di Palembang.
Dari beberapa istri Buya semuanya berjumlah 15 orang anak, 68 cucu, 18 cicit. Beberapa anaknya banyak yang menjadi orang sukses, akan tetapi sedikit sekali yang mengikuti jejak ayahnya sebagai ulama, mereka lebih memilih sekolah umum.
1.3 Wafat
Beliau wafat pada 16 Juli 1971 dan dimakamkan di 30 Ilir Palembang berdampingan dengan makam istrinya yang wafat 12 Februari 2000 yang bernama Hj. Niswah binti M. Husin.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
Setelah menimba ilmu dari sang ayah dan para ulama masa itu, beliau meneruskan sekolahnya ke Makkah serta sekaligus menunaikan ibadah Haji bersama anggota keluarganya, ketika itu usianya baru 14 tahun. Beliau termasuk murid yang cerdas dan ulet. Di Haramain beliau mulanya belajar di Beranda Masjidil Haram, kepada ulama-ulama besar pada waktu itu, seperti: Syekh Umar Sumbawa, Syekh Mukhtar Bogor, Syekh Darwisy Masri, Syekh Damanhuri Kelantan, dan lain-lain
Selanjutnya memasuki sekolah formal yang terkenal kala itu didirikan oleh komunitas ulama India, yaitu Madrasah Sholatiyah dan diterima di Kelas II Qismu Al-‘Ali. Dalam waktu yang singkat beliau menyelesaikan pelajarannya di Madrasah tersebut serta menerima Shahadah ‘Aliyah dengan predikat penghargaan tercatat “Min kibar hai ‘ati al-ulama”.
Cita-citanya belum terhenti sampai di
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

