Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · Syekh H. Ali Imran Hasan, Muasis Pesantren Nurul Yaqin Ringan-ringan
✓ Terverifikasi Tim Riset

Syekh H. Ali Imran Hasan, Muasis Pesantren Nurul Yaqin Ringan-ringan

1927 – 2017 M · 3.008 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Syekh H. Ali Imran Hasan Ringan-ringan lahir waktu subuh pada tanggal 30 Juni 1926 di Tanjung Aur. Ayahnya bernama Pakiah Hasan Tuanku Bagindo dan ibunya Siti Marin. Jika dirunut silsilah nenek moyang Ali Imran, darah ulama memang sudah dimilikinya.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi
1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Riwayat Keluarga
1.3  Wafat

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Mengembara Menuntut Ilmu
2.2  Guru-Guru

3.    Penerus
3.1  Anak-anak
3.2  Murid-murid

4.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1  Mendirikan Pesantren
4.2  Karier

5.   Referensi

1.  Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir

Syekh H. Ali Imran Hasan Ringan-ringan lahir waktu subuh pada tanggal 30 Juni 1926 di Tanjung Aur. Ayahnya bernama Pakiah Hasan Tuanku
Bagindo dan ibunya Siti Marin. Jika dirunut silsilah nenek moyang Ali Imran, darah ulama memang sudah dimilikinya. Syeikh Muhammad Amin bin Abdullah yang lebih dikenal denga sebutan Syekh Mato Aie di Pakandangan yang terkenal di wilayah Padangpariaman, adalah kakek buyut Syekh H. Ali Imran Hasan.

1.2 Riwayat Keluarga
Syekh H. Ali Imran Hasan menikah dengan seorang wanita sholehah bernama Azar Mainis dari pernikahan itu dikaruniai  lima orang anak dan 17 cucu.

1.3 Wafat
Syekh H. Ali Imran Hasan berpulang ke Rahmatullahi pada hari Rabu 12 April 2017 sekitar pukul 03.30, di usia 91 tahun.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu

Di saat usia belia Syekh H. Ali Imran Hasan sudah memasuki usia sekolah, pendidikan dasar yang diperoleh adalah pengetahuan agama, mengaji, tata cara sholat dengan baik dan benar. Karena ayahnya seorang ulama, Syekh H. Ali Imran Hasan selalu dapat wejangan agama baik langsung maupun melalui pengajian-pengajian yang diberikan Syekh Hasan kepada murid-muridnya.

Pengajian yang diadakan Syekh Hasan di surau Tangah Sawah Ringan-Ringan Pakandangan. Syekh Hasan yang mengajar dengan sistem pengajian halaqah (tradisional), dimana guru dikeliling oleh murid-murid. Pendidikan yang diberikan Syekh Hasan kepada Ali Imran memberi arti yang sangat penting bagi Ali Imran selanjutnya.

Syekh H. Ali Imran Hasan sudah memiliki dasar-dasar agama. sedangkan pengajian kitab dipelajarinya kepada para ulama yang di Sumatera Barat.
Tahun 1935 Ali Imran dibawa ayahnya Pakiah Hasan ke Sitanang Lubuk Basung. Di sana Syekh H. Ali Imran Hasan sekolah rakyat hingga kelas 5. Ia tamat kelas 5 tahun 1940.

Kemudian ayahnya pindah ke Tapian Kandi, Palembayan Matua Kabupaten Agam. Ali Imran turut membangun Sekolah Dasar, sekaligus mengajarnya. Meski baru tamat kelas 5, tapi sudah bisa mengajar.

Tahun 1944, Syekh H. Ali Imran Hasan kembali menuntut ilmu agama Islam, bahasa Arab dan kitab Alqur’an dengan Syekh Ibrahim Koto Baru Padang Panjang, seorang ulama yang cukup terkenal di Padang Panjang. Dari Tiakar Payakumbuh, kemudian Syekh H. Ali Imran Hasan melanjutkan pendidikannya ke Padang Japang selama setahun, 1950, kepada Syekh H. Nasaruddin Thaha.

Memang tidak lama di Padang Japang, Karena Syekh H. Ali Imran Hasan melanjutkan pendidikan ke Malalo, Tanah Datar, di pinggir danau Singkarak tahun 1950. Di Malalo, Syekh H. Ali Imran Hasan tidak saja belajar kitab seperti sebelumnya, tapi sudah dipercaya mengajar banyak santri. Di Malalo ini Syekh H. Ali Imran Hasan mulai menampakkan bakatnya sebagai guru, ulama, sekaligus pendakwah ya

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+