KH. Abdurrahman lahir pada tahun 1907 di Loloan Barat dengan nama Muhammad Qasim dari keluarga Ulama Bugis-Melayu Loloan.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru
4. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1 Mendirikan Pesantren
4.2 Mendirikan NU di Bali
4.3 Karier
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Abdurrahman lahir pada tahun 1907 di Loloan Barat dengan nama Muhammad Qasim dari keluarga Ulama Bugis-Melayu Loloan.
1.2 Riwayat Keluarga
Beliau menikahi seorang wanita sholehah dari pernikahan itu dikaruniai beberapa anak.
1.2 Wafat
KH. Abdurrahman berpulang ke Rahmatullahi pada tahun 2003 di usianya yang ke-97, beliau pun dimakamkan di Pemakaman Umum Komunitas Bugis-Melayu yang terletak di Kelurahan Loloan Timur.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
Ketika menginjak usia 10 tahun beliau dikirim ke daerah Pengastulan untuk mengaji Al-Qur'an kepada Tuan Guru Abdul Hamid hingga berusia 18 tahun. Pada tahun 1925, Datuk Haji Mahmud mengirimkan Muhammad Qasim remaja ke Jazirah Arabia, tepatnya ke Kota Suci Makkah yang waktu itu memang menjadi tempat tujuan belajar bagi masyarakat Islam Nusantara.
Di Kota Makkah beliau bermukim di kediaman Syeikh Isa Palembang yang sudah menjadi penduduk tetap Kota Makkah dan belajar berbagai disiplin ilmu agama dari sejumlah ulama besar yang mengajar di sana. Di antara guru-guru beliau adalah Syaikh Alwi Al-Maliki, Syaikh Umar, Syaikh Hamdan Al-Maghrabi serta seorang ulama besar ilmu hadis asal Palestina.
Di Kota Suci ini pula beliau bertemu dengan para santri Indonesia yang lain seperti Zainuddin Pancor, Wahid Hasyim Jombang dan Ambo Dalle’ Sulawesi. Di antara teman beliau yang paling akrab adalah Wahid Hasyim. Menurut penuturan beliau ketika masih hidup, setiap hari beliau dan KH. Wahid Hasyim pergi ke pedalaman dan bermain bola bersama orang-orang Baduwi.
Dan malam harinya sepulang dari bermain bola, KH. Wahid Hasyim yang saat itu sedang suka menulis, acapkali mengirimkan essai tentang watak dan kebiasaan orang Baduwi ke majalah Jumhuriyah. Beliau belajar di Kota Suci selama kurang lebih sembilan tahun.
2.2 Guru-Guru:
- Datuk Haji Mahmud
- Syekh Isa Palembang
- Syaikh Alwi Al-Maliki
- Syaikh Umar
- Syaikh Hamdan Al-Maghrabi
- KH. Bisri Musthofa
- KH. Hasyim Asy'ari
3. Penerus Perjuangan
3.1 Anak-anak
- KH. Muhammad Zaki HAR
4. Perjalanan Hidup dan
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

