KH. Sofwan Abdul Ghoni atau lebih dikenal dengan sebutan Ajengan Wawan beliau dilahirkan pada hari Rabu tanggal 5 September 1973 atau dalam penanggalan Hijriyah bertepatan dengan tanggal 7 Sya`ban 1393 H.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.2 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru
4. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1 Mengasuh Pesantren
4.2 Karier
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Sofwan Abdul Ghoni dilahirkan pada hari Rabu tanggal 5 September 1973 atau dalam penanggalan Hijriah bertepatan dengan tanggal 7 Sya`ban 1393 H di Kampung Tegal Jati, Desa Cibogo Hilir, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta. Beliau dididik dan dibesarkan di lingkungan pesantren, ayahnya KH. Burhanudin adalah seorang ulama sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Burhani Plered Purwakarta.
1.2 Riwayat Keluarga
KH. Shofwan Abdul Ghoni menikah di usia 25 tahun dengan Ustadzah Imas, yang juga salah satu santrinya saat di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Burhani. Hingga saat ini beliau dikaruniai tujuh orang anak, namun anak pertamanya meninggal dunia saat berusia 1 tahun.
1.3 Wafat
Beliau berpulang ke Rahmatullahi pada hari Selasa 21 Desember 2021/16 Jumadil Awal 1443 H. Jenazah beliau dimakamkan di Komplek Pemakaman Keluarga Pesantren Baitul Burhan Karawang.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
KH. Shofwan Abdul Ghoni menamatkan pendidikan formalnya di SDN Cibogo Hilir 1, kemudian dilanjutkan ke SMPN 1 Plered. Tamat SMP, dia tidak melanjutkan studinya secara formal. Namun, menggeluti ilmu agama Islam di berbagai pondok pesantren. Seperti Pondok Pesantren Baitul Hikmah Tasikmalaya, Pondok Pesantren Cikalama Cicalengka hingga Pondok Pesantren Al-Hidayah Warudoyong Sukabumi.
Pesantren yang pertama yaitu Pondok Pesantren Baitul Hikmah Tasikmalaya pimpinan KH. Saefuddin Zuhri. Kemampuan ilmu nahwu dan shorof sebagai ilmu dasar yang wajib dikuasai untuk memahami kitab-kitab klasik atau bahasa Arab secara umum beliau dapatkan di sini. Sehingga kemudian pesantren inilah yang menjadi stereotype bagi pesantren Baitul Burhan yang beliau dirikan.
Beliau terkenal dengan kecerdasan dan kemampuan menghafalnya, sehingga dalam dalam kurun waktu empat tahun, beliau sudah menguasai ilmu-ilmu yang dipelajarinya secara mendalam dan itu mendapatkan legitimasi dari KH. Saefuddin Zuhri sebagai pimpinan pesantren. Selain tempat menimba ilmu, di sinilah beliau memperoleh prinsip-prinsip hidup yang beliau pegang teguh.
Beliau juga sempat menimba ilmu di beberapa pesantren sebelum akhirnya mukim (menetap di rumah dan mengajar santri di pesantren ayahnya). Kegigihan, Ketulusan, kejujuran, dan sekaligus wibawa KH. Saefuddin Zuhri beliau warisi. Terbukti ketika beliau sudah mukim beliau sangat disegani dan dihormati oleh santri dan pengurus pesantren.
2.2 Guru-Guru
1. KH. Buhanudin
2. KH. Saefuddin Zuhri
3. Penerus Perjuangan
3.1 Murid-Murid
1. Ustad Rahmat Hidayatussalam
2. Ust
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

