Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · Gus Hasbi: Kiai di Luar Struktur Harus Tetap Dilibatkan dalam Menentukan Arah NU
✓ Terverifikasi Tim Riset

Gus Hasbi: Kiai di Luar Struktur Harus Tetap Dilibatkan dalam Menentukan Arah NU

269 kali dibaca · Profil Nahdlatul Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

NU adalah rumah besar yang dibangun oleh para ulama. Sebagian ulama mengabdi melalui struktur organisasi, sebagian lagi mengabdi melalui pondok pesantren, dan ada pula yang mengabdi melalui majelis-majelis ilmu yang pengaruhnya hidup di tengah umat,

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Laduni.ID, Kediri - Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Gus H. Ahmad Hasbi Munif, menegaskan pentingnya keterlibatan para ulama dan kiai di luar struktur organisasi dalam proses pengambilan keputusan strategis Nahdlatul Ulama (NU). Menurutnya, kebesaran NU tidak hanya ditopang oleh para pengurus yang berada dalam struktur organisasi, tetapi juga oleh para masyaikh, pengasuh pesantren, dan ulama yang selama ini mengabdikan diri melalui jalur pendidikan serta dakwah di tengah masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikan Gus Hasbi saat memberikan sambutan pada pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2026 yang digelar di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur, Sabtu (20/6/2026). Forum nasional tersebut mengusung tema “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa.”

Dalam sambutannya, Gus Hasbi mengingatkan bahwa NU dan pesantren merupakan dua entitas yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya lahir dari rahim perjuangan yang sama, tumbuh dengan nilai yang sama, dan berjalan di atas manhaj yang sama pula. Karena itu, menurutnya, penyelenggaraan forum-forum besar NU di lingkungan pesantren merupakan ikhtiar penting untuk merawat akar sejarah dan menjaga kesinambungan sanad perjuangan para muassis.

“NU adalah rumah besar yang dibangun oleh para ulama. Sebagian ulama mengabdi melalui struktur organisasi, sebagian lagi mengabdi melalui pondok pesantren, dan ada pula yang mengabdi melalui majelis-majelis ilmu yang pengaruhnya hidup di tengah umat,” ujar Gus Hasbi.

Ia menilai bahwa seluruh kekayaan hikmah yang dimiliki para ulama tersebut harus dihadirkan dalam setiap proses yang menentukan arah perjalanan jamiyah.

“Oleh karena itu, kami berharap dalam setiap pengambilan keputusan yang menentukan arah jamiyah, hendaknya Nahdlatul Ulama mampu menghadirkan seluruh kekayaan hikmah para ulama, baik yang berada di dalam struktur maupun yang berada di luar struktur,” tegasnya.

Menurut Gus Hasbi, ukuran kebesaran seorang ulama tidak ditentukan oleh jabatan yang diemban, melainkan oleh keluasan ilmu, kedalaman hikmah, dan keberkahan pengaruhnya di tengah umat. Karena itu, NU perlu memastikan bahwa para ulama sepuh tetap memiliki ruang untuk memberikan masukan dalam berbagai kebijakan strategis organisasi.

“Kebesaran seorang ulama tidak ditentukan oleh jabatan yang beliau pegang, tetapi oleh keluasan ilmu, kedalaman hikmah, dan keberkahan pengaruhnya di tengah umat,” katanya.

Lebih lanjut, Gus Hasbi berharap Munas dan Konbes NU 2026 tidak hanya menjadi forum administratif organisasi, melainkan juga forum untuk menjaga amanah para pendiri NU. Ia menginginkan setiap keputusan yang dihasilkan mampu memperkuat persatuan, memperluas keterwakilan, serta menghadirkan rasa memiliki bagi seluruh keluarga besar Nahdlatul Ulama.

Menurutnya, mekanisme organisasi yang baik tidak cukup hanya memenuhi aspek administratif. Aspek kultural dan penghormatan terhadap para ulama juga harus menjadi perhatian utama agar tidak muncul kesan adanya jarak antara pengambil kebijakan dengan para masyaikh yang selama ini menjadi sumber inspirasi dan bimbingan umat.

“Jangan sampai lahir satu mekanisme yang secara administratif sempurna, tetapi secara kultural membuat sebagian ulama sepuh merasa jauh dari proses yang menentukan masa depan jamiyah,” ujarnya disambut tepuk tangan peserta forum.

Dalam kesempatan tersebut, Gus Hasbi juga menyampaikan sebuah pesan yang menjadi penekanan penting dalam perjalanan organisasi. Menurutnya, struktur organisasi memang dibutuhkan sebagai instrumen pengelolaan jamiyah, tetapi ruh organisasi tetap berada pada hikmah dan bimbingan para ulama.

“Struktur adalah alat, sedangkan hikmah para ulama adalah ruh. Dan jamiyah ini akan kokoh apabila alat dan ruh berjalan be

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+