Kini keberadayaan dayah di Aceh yang lahir dari Rahim MUDI baik dengan penabalan nama akhir ”Al-Aziziyah” maupun tidak telah mewarnai dunia pendidikan Aceh lebih berdenyut bersama dayah lainnya dalam menegakkan panji agama di nanggrou endatu ini
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi Profil Syekh H. Abdul Aziz Samalanga (Abon Aziz)
Kelahiran
Syekh H. Abdul Aziz Samalanga atau yang kerap disapa dengan panggilan Abon Aziz dilahirkan pada bulan Ramadhan tahun 1351 H atau bertepatan dengan 1930 M, di sebuah gampong bernama Kandang di Kecamatan Samalanga, dulunya dalam Kabupaten Aceh Utara. Namun, setelah pemekaran, Samalanga menjadi bagian dari Kabupaten Bireuen.
Dalam perjalanan hidupnya, Abon Aziz dibesarkan dan diasuh di Jeunieb. Kondisi ini disebabkan ayahanda beliau pernah menjabat Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Jeunieb. Ayahnda Abon juga tokoh agama yang berperan penting dan banyak berjasa dalam memajukan pendidikan agama khususnya dayah.
Salah satu buktinya Dayah Darul Atik Jeunib, pendirinya ayahanda Abon Aziz Al-Mantiqi. Abon Aziz masa kecil menghabiskan waktu di Jeunieb dan juga belajar ilmu agama di dayah tersebut.
Keluarga
Saat itu dayah dipimpin Tgk. Haji Hanafiah (Tengku Abi) lebih kurang selama dua tahun. Namun, usia Abon telah matang. Abon menikahi seorang gadis di Gampong Mideun Jok Samalanga yang merupakan putri gurunya sendiri yang adalah pimpinan Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Dayah Ma’hadal Ulum Diniyah Islamiyah Mesjid Raya (MUDI Mesra) Samalanga pada waktu itu. Abon dikaruniai empat anak, yaitu (almarhumah) Hj. Suaibah, Hj Shalihah, (almarhum) Tgk. H .Thaillah dan Hj Masyitah.
Pendidikan
Abon memulai pendidikannya dengan belajar di sekolah SR (Sekolah Rakyat) pada tahun 1937. Tidak lama setelah itu, beliau menamatkan pendidikan dasarnya pada tahun 1944. Pendidikan formal Abon hanya menamatkan SR.
Abon sejak tahun 1944 belajar pada ayahandanya selama dua tahun. Keinginan beliau untuk menuntut ilmu yang lebih mendalam, tahun 1946 pindah belajar ke Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga.
Ilmu itu apabila terus ditekuni, semakin terasa masih kurang. Akhirnya Abon Aziz pada tahun 1948 melanjutkan pendidikannya ke salah satu dayah yang dipimpin Teungku Ben (Teungku Tanjongan) di Matangkuli Kabupaten Aceh Utara. Di dayah tersebut Abon belajar pada Teungku Idris Tanjongan sampai 1949. Pada tahun tersebut beliau kembali ke Dayah LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga untuk mengabdikan diri menjadi guru di dayah tersebut.
Mengajar di Dayah
Setelah sekian lama Abon Aziz Al-Mantiqi menuntut ilmu di Dayah Darussalam Labuhan Haji, Aceh Selatan. Di bawah bimbingan Al-Mukarram al-Mujaddid Al-Mursyid Abuya Muda Waly Al-Khalidy yang dikenal sangat alim dan telah teruji kealimannya dalam khazanah keilmuan di kalangan ahli ilmu pada masa itu.
Atas petunjuk dan izin Abuya Muda Waly, akhirnya Abon tepatnya pada tahun 1958 kembali lagi ke Samalanga untuk mengabdi di Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga dalam mengembangkan ilmunya.
Dalam catatan tertulis disebutkan pada tahun tersebut pimpinan Dayah LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga meninggal dunia dan estafet kepemimpinan dayah diserahkan kepada Abon Aziz Al-Mantiqi.
Pada awal kepemimpinan Abon, dayah MUDI telah melakukan reformasi terhadap kurikulum dengan penambahan beberapa disiplin ilmu seperti mantiq, ushul fiqh dan lainnya, padahal ini belum dilakukan pada kepemimpinan sebelumnya. Tentu saja kurikulum ini juga mengadopsi dari dDyah Labuhan Haji tempat Abon menunutut ilmu dahulunya.
Kelebihan yang dimiliki oleh Abon dan tentu saja ini berkat didikan Abuya salah satunya, beliau sangat disiplin dan memiliki seman
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

