Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · Pesan-Pesan Pernikahan, dari Resep Rumah Tangga Bahagia Hingga Tatacara Bercinta
✓ Terverifikasi Tim Riset

Pesan-Pesan Pernikahan, dari Resep Rumah Tangga Bahagia Hingga Tatacara Bercinta

5.549 kali dibaca · Nasihat Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

 Di antara kunci rumah tangga bahagia menurut para leluhur adalah apabila suami-istri dapat menciptakan rumah tangga yang “Guyup-Rukun”, “Adem-Ayem”, dan “Mudah Sandang Pangan”.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

LADUNI.ID - Di antara kunci rumah tangga bahagia menurut para leluhur adalah apabila suami-istri dapat menciptakan rumah tangga yang “Guyup-Rukun”, “Adem-Ayem”, dan “Mudah Sandang Pangan”.

Pertama, prinsip guyup-rukun, yaitu prinsip yang tidak berhubungan dengan keimanan dan ibadah, melainkan berhubungan dengan kesamaan pendapat dan tujuan antara suami dan istri.

Tentang Guyup rukun ini, ada contoh pasangan suami istri di daerah Malang, di mana yang suami suka adu ayam jago, sementara istrinya suka memandikan dan merawat ayam jago. Walapun keduanya termasuk pasangan yang jarang bahkan tidak beribadah sekalipun, tapi mereka tetap guyup dan rukun karena kesamaan pendapat dan tujuan.

Ada lagi, pasangan suami istri, yang suaminya gemar menjadi bandar togel sementara istrinya hobi pasang nomor togel. Walapun keduanya tidak konsisten beribadah tetapi rumah tangga mereka selalu terlihat guyup rukun.

Inilah contoh bahwa di dalam prinsip guyup rukun yang diutamakan adalah kesamaan pendapat dan tujuan bersama.

Jadi suami-istri, walaupun berbeda pendapat usahakan untuk sama atau tidak jauh-jauh beda, lebih utama salah satunya untuk mengalah agar rumah tangga senantiasa utuh.

Di dalam suatu riwayat diceritakan bahwa pada masa Sayiddina Umar ada seorang warga biasa yang setiap hari dimarahi oleh istrinya sehinga munculah inisiatif untuk mengadu kepada Sayidina Umar Sang Khalifah. Ketika warga yang ingin mengadu itu telah sampai di pintu masuk rumah Sayidina Umar, alangkah kagetnya ia bahwa Sayidina Umar yang seorang khalifah sekalipun, ketika berada di dalam rumah, tetap kena marah istrinya.

Mendengar Sayina Umar dimarahi Istrinya, warga yang akan mengadu kepada Sayidina Umar pun urung mengadu dan bertanya kepada Sayidina Umar kenapa ketika dimarahi istrinya, beliau diam?

Kepada warga tersebut Sayidina Umar berkata bahwa sebab istrikulah aku selamat dari api neraka karena aku terhindar dari maksiat dan perzinaan, istrikulah yang menjaga harta bendaku di rumah, istriku yang menyetrika baju-bajuku (padahal di dalam kitab-kitab fikih menyetrika masuk dalam tugas suami, bahkan di dalam kitab “Tukhfatul Arusyain” karya Syekh Abdul Manan al-Tayibi disebutkan tugas suami kepada istrinya berjumlah 100 lebih seperti masak dan menyetrika, begitu juga kewajiban istri terhadap suaminya yang ada 100 lebih), istriku yang merawat anak-anakku dan memasak untukku, sehingga walaupun aku (Umar) dimarahi oleh istriku aku tetap diam dan sabar.

Prinsip kedua di dalam rumah tangga adalah Ayem-tentrem yang prinsip ini, tidak bisa dipisahkan dengan ibadah dan keimanan kepada Allah. Jika untuk guyup rukun saja, cukuplah suami istri untuk menyamakan visi-misi berumah tangga. Tetapi agar rumah tangga ayem-tentrem suami dan istri harus istiqomah beribadah kepada Allah.

Di dalam Alquran setidaknya di dalam kamus “al-Mukjam al-Mufahras li Alfadzil al-Quran” disebutkan bahwa shigat makna sakinah ada enam dan kesemuanya tidak berhubungan dengan pangkat, harta dan kekayaan, melainkan dengan ibadah kepada Allah.

Perumpamaan ketenangan adem tentrem di dalam rumah tangga dengan cara ibadah kepada Allah diibaratkan seperti burung yang lebih menyukai hidup di hutan belantara daripada di dalam sangkar emas. Kenapa? Karena fitrah burung bisa tenang apabila bisa terbang di alam bebas. Begitulah sebenarnya manusia yang memiliki fitrah beribadah dan mengakui Allah sebagai Tuhannya.

Oleh karena itu, sekaya dan setinggi apapun pangkat seseorang tidak akan bisa tenang apabila tidak ibadah kepada Allah. Karena telah menjadi nalurinya untuk bneribadah dan bersaksi mengakui Allah sebagai tuhan, laksana burung di alam bebas, harimau di hutan belantara dan ikan yang hidup di lautan.

Prinsip yang ketiga adalah mudah sandang pangan, ada satu hadist qudsy di dalam kitab “al-Tibyan fi Adabi Ham

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+