KH. Moh. Hasan Mutawakkil 'Alallah, S.H., M.M Ulama Nahdlatul Ulama Probolinggo Jawa Timur
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup
1.1 Lahir
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Mengasuh Pesantren
3.2 Kiprah di Nahdlatul Ulama (NU)
4. Karier
5. Chart Silsilah Sanad
6. Referensi
1. Riwayat Hidup
1.1 Lahir
KH. Moh. Hasan Mutawakkil 'Alallah, S.H., M.M., lahir pada tanggal 15 April 1959 di Genggong. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Hasan Saifourridzall dengan Nyai Hj. Himami Hafshawaty.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
Ketika baru berusia sebelas tahun, Kyai Mutawakkil kecil sudah dipondokkan ayahandanya ke Pondok Pesantren Madrasatul Ilmi Syari’ah Sarang, Rembang Jawa Tengah pimpinan Kyai Imam. Namun pendidikannya di pesantren ini berjalan singkat, hanya 9 bulan. Anak kedua dari enam bersaudara itu pun lantas melanjutkan pendidikan agamanya di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’ien Lirboyo Kediri, sekaligus menempuh pendidikan menengah pada Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Lirboyo. Saat di Lirboyo, ia sudah menyenangi pelajaran Nahwu, Shorof, Balaghoh (ilmu alat), Ilmu Fiqoh, Tafsir dan Hadis.
Selama sebelas tahun (1979-1981), dirinya mendalami agama di bawah asuhan KH. Marzuki dan Romo Kyai Mahrus Ali. Pemuda Mutawakkil juga sempat mengenyam pendidikan tinggi di Fakultas Syari’ah Universitas Tribhakti Kediri dan ikut aktif di organisasi PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia). Setelah berhasil menggamit Sarjana Mudanya, dirinya melanjutkan kuliah di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Baru setahun menempuh kuliah, dirinya mendapat beasiswa untuk belajar di Al-Azhar Kairo, Mesir. Pada tahun 1983, ia berkesempatan untuk mencari pengalaman study tour ke luar negeri, semisal ke Frankrut-Jerman, Polandia, Belgia dan Belanda.
3. Perjalanan Hidu dan Dakwah
3.1 Mengasuh Pesantren
Di tengah keasyikannya menuntut ilmu ternyata beliau dijemput pulang oleh sang ayahanda, yakni KH. Saifurrizal pada tahun 1985. Setelah dijemput pulang, beliau langsung mengajar di Pesantren Zainul Hasan. Tak berapa lama setelah ia pulang, ibunda dan ayahandanya pulang keharibaan Allah SWT.
Akhirnya beliau dipasrahi kepengasuhan menggantikan abahnya KH. Hasan Saifurrizal yang beliau rasa merupakan amanah berat yang harus dijalankan karena menurut beliau perjuangan agama adalah pertanggung jawaban di dunia dan akhirat. Dan beliau menikah dengan seorang muslimah dari Jember bernama Nyai Hj. Muhibbatul Lubabah dan dikaruniai enam orang putri.
3.2 Kiprah di Nahdlatul Ulama (NU)
Sosok kyai yang dikenal sangat menyukai angka sembilan ini akhirnya terpilih menjadi Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama dalam dua periode. Hingga hari ini beliau dalam kiprahnya menjadi Ketua PWNU Jatim banyak sekali inovasi yang mampu membangkitkan kembali gairah NU Jatim.
Sesuai manhajnya di antara beliau mendirikan TV 9, channel televisi yang menjadi sarana dak
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

