Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · Syekh Nuruddin ar-Raniry
✓ Terverifikasi Tim Riset

Syekh Nuruddin ar-Raniry

lahir 1637 M · 46.414 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Syekh Nuruddin ar-Raniry Ulama Aceh

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi Profil Syekh Nuruddin Ar-Raniry

  1. Kelahiran
  2. Menjadi Mufti di Aceh
  3. Pendidikan
  4. Sosok Pemikir
  5. Ahli Sejarah
  6. Karya-Karya

Kelahiran

Syekh Nuruddin bin Ali bin Hasanji bin Muhammad Hamid Ar-Raniry dilahirkan di Ranir (Rander), Gujarat, India.

Menjadi Mufti di Aceh

Pada tahun 1637, Syekh Nuruddin pergi ke Aceh dan tinggal di sana selama tujuh tahun. Saat itu Syekh Syamsuddin as-Sumatrani telah meninggal. Berkat keluasan pengetahuannya, Sultan Iskandar Tani (1636-1641) mempercayainya untuk mengisi jabatan yang ditinggalkan oleh Syamsuddin. Syekh Nuruddin menjabat sebagai Kadi Malik al-Adil, Mufti Besar, dan Syekh di Masjid Bait al-Rahman.

Pada saat ia berjaya sebagai pejabat kesultanan inilah, dengan dibantu oleh Abdul Rauf Singkel, ia melakukan gerakan pemberantasan aliran wujudiyah yang diajarkan oleh Hamzah Fansuri dan Syamsudin as-Sumatrani. Karya-karya kedua ulama sufi itu dibakar dan para penganut aliran wujudiyah dituduh murtad serta dikejar-kejar karena dituduh bersekongkol untuk membunuh istri Sultan, Ratu Safiatun Johan Berdaulat

Keadaan berbalik melawan Syekh Nuruddin ketika Sultan Iskandar Tani digantikan oleh istrinya, Sultanah Safiatuddin Johan Berdaulat (1641-1675). Polemik antara Syekh Nuruddin dan aliran wujudiyah bangkit kembali. Kali ini yang menang adalah seorang tokoh yang namanya sama dengan salah satu karya Hamzah Fansuri, yaitu Saif ar-Rijl, yang berasal dari Minangkabau dan baru kembali ke Aceh dari Surat (Braginsky, 1998: 473).

Saif ar-Rijl mendapat dukungan sebagian besar kalangan Aceh, yang merasa tidak senang dengan besarnya pengaruh orang asing di istana Aceh. Untuk menyelesaikan pertikaian itu mereka mencari nasihat sang ratu, tetapi sang ratu menolak dengan dalih tidak berwenang dalam soal ketuhanan.

Sesudah berpolemik selama sekitar satu bulan, Syekh Nuruddin terpaksa meninggalkan Aceh dengan begitu tergesa-gesa, sehingga ia tidak sempat menyelesaikan karangannya yang berjudul Jawahir al-‘Ulum fi Kasyfi al-Ma‘lum (Hakikat Ilmu dalam Menyingkap Objek Pengetahuan) (Takeshi Ito, 1978: 489-491; via Braginsky, 1998: 473-474).

Pendidikan

Guru

  1. Syeikh Said Abu Hafs Umar bin 'Abd Allah Ba Syaiban dari Tarim darusiyyah dan Qodiriyyah Maqassari

Penerus

  1. Syeikh Yusuf Tajul Mankatsi/al-Maqasari al-Khalwati 

Sosok Pemikir

Mungkin yang diingat orang ketika pertama kali membicarakan Syekh Nuruddin Ar-Raniry adalah pertentangannya dengan aliran wujudiyah, yang disebarkan oleh penyair sufi Hamzah Fansuri dan para pengikutnya. Berkat kedekatannya dengan Sultan Iskandar Tani, Syekh Nuruddin berhasil menggerakkan kekuatan militer untuk memberantas aliran yang dihujatnya sebagai penyimpangan itu

Kegigihan Syekh Nuruddin dalam memberantas gerakan wujudiyah adalah konsekuensi logis dari penalarannya dalam bidang teologi. Ia memang dikenal sebagai seorang ortodoks dan bersemangat besar dalam memurnikan ajaran Islam. Dalam Sirat al-Mustakim, ia berkomentar dengan nada sinis tentang Hikayat Inderaputera. Menurutnya, seperti juga Hikayat Seri Rama, hikayat ini dapat digunakan di dalam jamban saja, oleh karena di dalamnya nama Allah tidak disebut-sebut (Braginsky, 1998: 293).

Syekh Nuruddin menulis beberapa kitab khusus untuk melawan premis-premis wujudiyah, antara lain Hill az-Zill (Sifat Bayang-bayang

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+